Kue Keranjang, Sajian Khas Tahun Baru Imlek

da7afd8096ec3cf27c91855ffb7b7cae670c5fd6.jpeg

Setelah disibukkan dengan kemeriahan tahun baru, masyarakat keturunan Tionghoa kembali menyambut salah satu momen yaitu tahun baru Imlek. Tahun baru Imlek mendatang tentunya tidak lengkap tanpa beberapa tradisi, seperti angpao, warna merah, serta kue keranjang.

Kue keranjang merupakan hidangan yang wajib ada setiap tahun baru Imlek. Kue ini memiliki nama lain niangao. Niangao yang berarti kue tahun merupakan simbol dari rezeki yang berlimpah, posisi yang semakin tinggi, anak-anak yang tumbuh dengan baik. Harapan-harapan tersebut juga dapat diartikan menjalani kehidupan di tahun yang lebih baik dari sebelumnya.

Kue ini memiliki sejarah yang panjang. Kira-kira pada 1000 tahun yang lalu, tepatnya pada masa Dinasti Liao (907-1125), orang-orang di Beijing mulai membiasakan diri memakan kue keranjang atau niangao pada hari pertama di tahun baru. Pada Dinasti Ming (1368-1644) dan Dinasti Qing (1644-1911), mengonsumsi kue keranjang pada tahun baru akhirnya menjadi kebiasaan pada saat Imlek dan tradisi tersebut sukses dipertahankan hingga sekarang.

Kue keranjang terbuat dari gula beserta tepung ketan yang menghasilkan tekstur kenyal dan lengket ketika dikonsumsi. Secara filosofis, kue keranjang yang kenyal merupakan simbol dari daya juang yang tinggi untuk mencapai tujuan dalam kehidupan. Tekstur lengket pun juga memiliki arti yang sangat mendalam yaitu ikatan persaudaraan yang erat dan menyatu.

Selain itu, rasa manis yang diperoleh dari gula juga dapat diartikan sebagai rasa gembira dan selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam hidup. Kue keranjang yang berbentuk bulat pun ternyata juga mengandung arti yang penting lho, Bu. Bentuk bulat kue ini juga disebut melambangkan bahwa keluarga akan selalu bersama tanpa batas waktu. Oleh karena itu, keluarga wajib menjadi prioritas agar kerukunan sesama anggotanya dapat selalu terjaga.