Cara Hadapi Bullying di Sekolah si Kecil

7e85ddce494119f7a7ff2e02107f1a982260b65e.jpeg

Sebagai orangtua, Ibu perlu waspada terhadap kegiatan serta perilaku si Kecil di sekolah. Ya, belakangan ini marak terjadi bullying yang dapat mengganggu kondisi psikologis si Kecil. Bullying sebenarnya adalah situasi dimana terjadinya penyalahgunaan kekuatan/kekuasaan yang dilakukan oleh seseorang/ sekelompok. Lantas, mengapa Ibu perlu memerhatikan adanya tindakan bullying di sekolah si Kecil?

Mungkin, sebagian Ibu merasa bahwa perilaku kasar antar sesama siswa di sekolah, misalnya memukul atau mengejek, merupakan hal yang lumrah terjadi di kalangan anak-anak. Namun, sebenarnya dari perilaku tersebutlah tindakan bullying mulai dapat mempengaruhi perilaku si Kecil, baik yang menjadi pelaku maupun korbannya. Jadi, tindakan bullying terjadi ketika pihak yang menjadi korban dianggap merasa terintimidasi apalagi karena tindakan kasar tersebut telah dilakukan secara berulang kali. Sebelum tindakan bullying memberikan dampak lebih jauh terhadap perilaku si Kecil, Ibu perlu mengetahui cara menghadapi bullying di sekolah si Kecil dengan tepat.

  1. Membiasakan si Kecil untuk terbuka

Ibu atau pihak lain pun tidak akan mengetahui apa yang terjadi di sekolah si Kecil, apabila ia tidak bercerita. Ibu sebaiknya meyakinkan ia untuk membiasakan bercerita kepada orang lain mengenai kegiatan di sekolah. Jika si Kecil jarang bercerita kepada Ibu, Ibu dapat mencari jalan lain, misalnya berusaha mencari tahu kepada si kakak, adik, atau teman-temannya. Perbanyak komunikasi dengan si Kecil agar Ibu dapat selalu mengetahui apa yang terjadi di sekolahnya.

  1. Cari tahu alasan perilaku si Kecil

Peran orangtua sangat besar dalam mendampingi, mendukung serta melindungi si Kecil. Dalam hal bullying, Ibu memiliki peran penting untuk mendukung perubahan si Kecil, terutama dalam tingkah laku menyikapi bullying. Anak yang menjadi korban bullying cenderung tidak sanggup melawan, kurang percaya diri dan sulit menyelesaikan masalahnya. Pada saat itulah peran orangtua dibutuhkan untuk mendukung si Kecil meningkatkan percaya diri sehingga mampu melawan tindakan bullying. Sebaliknya, apabila si Kecil ternyata menjadi pelaku bullying, Ibu perlu mencari tahu alasan terbesar di balik perilakunya tersebut. Dilansir dari buku Bullying: mengatasi kekerasan di sekolah dan lingkungan sekitar anak, banyak alasan menjadi pelaku bullying, misalnya karena kepercayaan diri yang terlalu tinggi sehingga memiliki dorongan untuk menindas orang yang lebih lemah atau karena mengulangi apa yang ia lihat atau alami.

  1. Berkomunikasi dengan pihak sekolah

Setelah mengetahui apa yang terjadi, Ibu sebaiknya menghubungi pihak sekolah, baik guru ataupun kepala sekolah agar dapat berdiskusi mengenai solusi bullying secara bersama-sama. Tidak perlu membesar-besarkan masalah, menjadi orangtua korban atau pelaku sama-sama perlu menghentikan adanya praktik bullying sebelum semakin jauh mempengaruhi kepribadian si Kecil.

  1. Dukung perubahan si Kecil

Dalam hal bullying ini, Ibu perlu memberikan perhatian, kasih sayang, dan cinta yang lebih dari biasanya sebagai bentuk dukungan Ibu. Jika ia merupakan korban, ajak si Kecil berbicara lebih lanjut untuk meningkatkan percaya dirinya dan mengubah perilaku untuk lebih tegas dan berani berbicara kepada pihak lain. Sebaliknya, dilansir dari buku Meredam Bullying  3 Cara Efektif Menanggulangi Kekerasan Pada Anak, orangtua perlu melakukan intervensi sejak awal, khususnya bagi orangtua pelaku bullying agar mampu melakukan fungsi kontrolnya dengan adil dan perlu lebih menekankan efek tanggung jawab dari setiap perilaku yang dilakukan.

Ibu bisa mengambil peran penting untuk memutus rantai bullying apabila Ibu peka terhadap perilaku si Kecil di sekolah. Bullying akan terus ada apabila orangtua terus menganggap remeh dan korbannya tidak berani berbicara mengenai apa yang ia rasakan. Yuk, peka terhadap perilaku si Kecil di sekolah!