68e18fc832d0eab040c205827e4d56a27dbbe512.jpeg

Banyak aspek dari permainan yang bisa dan harus dipetik demi kebugaran anak. Bugar di sini bukan semata fisik, terlebih juga jiwa  dan sosial. Sementara permainan sendiri banyak ragamnya, dan tidak semuanya bernilai sama di mata kesehatan. Anak sekarang cenderung lebih banyak bermain sembari duduk dan kurang bergerak. Maka perlu ada pilihan permainan lain agar kebugaran anak terraih. Apa sajakah pilihannya?

Tidak semua permainan sama menyehatkannya. Bermain games tentu tidak lebih menyehatkan ketimbang galasin, petak umpet, atau perang-perangan. Namun karena semakin sedikit jenis permainan ditawarkan dan games menjadi trend, maka anak sekarang cenderung lebih banyak duduk. Kesempatan menggerakkan sekujur tubuh kian minimal. Dan itu yang menjadikan kenapa kebanyakan anak sekarang kelebihan berat badan dan kurang bugar.

Jenis permainan apa pun dituntut agar selain membugarkan fisik, jiwa, juga sosial. Untuk itu tak hanya sekadar bergerak, tapi si Kecil juga perlu meraih degup jantung minimal untuk bisa memasuki zona aerobik. Terus berlari, terus bergerak sampai terengah-engah akan membuahkan kebugaran.

Permainan membangun karakter

Permainan juga membangun jiwa sportif, tidak mau menang sendiri, mencapai prestasi dengan adil dan tidak curang, bisa menerima kekalahan dan mau menghargai kelebihan orang lain. Pembangunan karakter semacam itu yang hendaknya terpetik dari permainan berkelompok.

Permainan hendaknya bukan yang soliter seorang diri. Kegiatan bersosialisasi terbangun juga bila anak melakukan permainan berkelompok. Anak juga perlu mengenal dan memahami perbedaan sifat orang lain, mengerti bahwa bahwa semua orang tidak sama.

Kematangan anak juga terbentuk dari bersosialisasi dalam suatu permainan, di antaranya mampu bertoleransi, tahu tepa selira dan berpikir buat orang lain juga. Di situ anak-anak mengenali diri mereka sendiri. Anak mawas, bahwa bukan ia sendiri yang paling hebat. Anak menyadari bahwa orang lain juga punya kelemahan dan kekurangan sebagaimana halnya dirinya sendiri.

Kebugaran total tercapai bila selain badan bugar, jiwa, dan sosial, spiritualitas juga sama bugarnya.

Bermain sebagai kodrat anak

Bermain adalah bagian dari kodrat setiap anak. Anak jangan sampai kehilangan masa bermainnya. Sejumlah studi menemukan anak yang masa kecilnya kekurangan bermain, tidak matang setelah dewasa. Maka jangan rampas masa bermain anak, biarkan anak mengembangkan masa bermainnya, kita yang membukakan fasilitasnya.

Ada kegembiraan selama dalam permainan. Ada kontak sosial, kontak batin dengan teman sepermainan, ada tumbuh jiwa penolong, jiwa ksatria, dan motif meraih prestasi, selain semangat berjuang. Maka tak cukup membiarkan anak memilih sendiri permainannya, apalagi kalau hanya terpikat bermain games sepanjang hari.

Sindroma penyakit duduk akibat pilihan anak hanya games itulah yang kini dirisaukan orang. Anak menjadi gemuk dan kurang gerak (sedentary lifestyle) menjadi awal penyakit metabolik kelak setelah anak menjadi dewasa. Anak di kota besar berisiko kencing manis sejak kecil, kendati tidak mewarisi keturunan diabetik, karena gaya hidup kurang bergerak.

Permainan banyak bergerak

Jadi jenis permainan yang banyak bergerak itulah yang harus dipilih. Apa pun jenisnya, termasuk permainan muatan lokal, pada prinsipnya memerlukan banyak bergerak dan tidak hanya duduk atau berdiri. Kita melupakan permainan kasti, gatrik dan sejenisnya yang menggerakan sekujur tubuh karena banyak berlari untuk waktu cukup lama. Segala jenis dan bentuk permainan dengan berlari itu yang dinilai menyehatkan.

Anak perempuan cenderung memilih permainan dengan menggunakan tali. Ada sejumlah permianan yang bisa memanfaatkan tali. Lompat tali, lompat tinggi, dan beberapa jenis lainnya. Sedang anak lelaki memilih main perang-perangan sambil bersembunyi, kejar dan dan berlari.

Berbeda dengan berolahraga yang belum tentu menyenangkan, permainan disertai rasa gembira. Ada kegembiraan terbit di sana. Tidak perlu mengejar prestasi, cukup menumbuhkan kepuasan sementara badan sudah cukup banyak bergerak.

Dalam permainan juga berlangsung interaksi dengan teman-teman. Ada kegembiraan di sana. Mungkin ada kelucuan, saling mengenal tabiat, melihat kelemahan, ketakutan, terbitnya rasa malu pada teman lain. Kesemuanya itu menambah anak belajar dari orang lain, dari pengalaman berkontak sosial.

Sudah barang tentu permainan yang menggerakkan sekujur tubuh membutuhkan lebih banyak kalori untuk dibuang dibandingkan permainan yang hanya duduk. Itu terlihat dari berat badan anak yang tidak berlebihan sebagaimana kebanyakan anak yang hanya bermain games. Selain menyehatkan jantung, paru, otot, dan sendi, kalori tubuh pun banyak terbakar.

Kalori yang banyak terbakar menjaga tubuh agar tidak kelebihan berat badan. Bila berat badan terjaga stabil pada nilai idealnya, berarti aktivitas fisik sama besarnya dengan asupan makan. Lebih dari itu permainan yang banyak membuang kalori mencegah banyak penyakit lain pada anak, termasuk ancaman infeksi, karena aliran darah anak menjadi senantiasa deras, dan sistem kekebalan tubuhnya pun berkembang prima.***

* Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan

Daftarkan email Anda untuk informasi terkini