Porsi Serat Yang Sesuai Untuk Anak

64ee4c8b2d736674b657770cf6e456ab640ac2f2.jpeg

Berbicara soal makanan serat, selalu muncul kesan mahal. Bukan karena harga sebenarnya, melainkan jenis menu ini kian hari kian berkurang saja dari meja makan setiap rumah tangga. Berapa secukupnya tiap anak memperoleh serat, setiap ibu perlu memahaminya. Bukan sekadar porsi, melainkan seberapa besar fungsi serat bagi anak sampai jauh kelak setelah mereka dewasa.

Makanan berserat sebetulnya bukan masalah bagi orang jaman orangtua kita. Tanpa disiapkan, semua menu harian berserat seperti sudah dengan sendirinya hadir di setiap menu meja makan rumah orang dulu. Sekarang tidak lagi selalu begitu. Mengapa?

Oleh karena pola makan dan pilihan menu zaman sekarang sudah banyak berganti, dari makanan alami ke menu olahan. Selain itu bahan baku menu olahan sekarang juga lebih mengandalkan bahan buatan, bukan lagi bahan alami seperti yang dulu orang pilih. Terigu, bukan ubi atau sagu. Gula pasir, bukan gula merah, atau madu. Orang sekarang condong hanya memilih bahan non alami. Itulah yang menjadikan menu orang sekarang cenderung miskin kandungan serat. Hal yang sama terjadi pada menu harian si kecil.

Berapa porsi serat harian kita?

Serat berasal dari sumber alami tumbuhan. Serat bersifat tak bisa dicerna oleh usus, sehingga menambah isi tinja dan memicu keluarnya tinja (bulky). Untuk itu salah satunya, manfaat serat sangat penting bagi tubuh kita.

Serat makanan terdiri dari dua jenis, serat yang larut dalam air, biasanya sudah terfermentasi oleh kuman usus, banyak menyerap air dan lalu berubah menjadi semacam gelatin. Dan berikutnya serat tidak larut dalam air, yang sepenuhnya menambah isi tinja, tidak terfermentasi, sebagian besar berupa lignin.

Serat sebagai makanan bukan jenis karbohidrat majemuk. Serat berisikan lebih dari sepuluh jenis kandungan yang satu sama lain saling melengkapi. Karena itu serat memang tidak menyumbangkan kalori bagi tubuh.

Apa pun jenis dan kandungan serat dalam sumber tumbuhan berbahan serat, ia memberikan manfaat bagi tubuh, dan sangat dibutuhkan. Tanpa serat sebagai menu harian yang menyehatkan, belumlah lengkap, seperti kita membutuhkan zat gizi lainnya.

Rata-rata anak sekarang jauh dari kecukupan menu serat, lantaran kebanyakan anak sekarang tidak menyukai sayur-mayur selain bebuahan. Padahal sayur mayur dan bebuahan sumber serat terbesar.

Tidak ada takaran pasti berapa serat yang tubuh butuhkan setiap harinya. Takaran umum serat berkisar antara 20-35 gram setiap harinya untuk orang dewasa, dan cukup 5 gram untuk usia bayi, dan 9 gram untuk usia balita. Lebih banyak tentu lebih menyehatkan. Walau satu kelemahan menu berserat, usus jadi memproduksi lebih banyak gas.

Kebutuhan akan serat juga ditentukan pula oleh seberapa besar jumlah kalori yang kita konsumsi setiap harinya. Apabila kalori harian kita sekitar 2,000 kkal, atau 8,400 joule, tubuh kita membutuhkan serat sekurang-kurangnya 25 gram per harinya.

Secara kasar jika ditukar ke dalam ukuran rumah tangga, orang dewasa membutuhkan sedikitnya 4 porsi makanan serat setiap harinya. Kalau satu porsi berisi sekitar 200 cc (1 gelas), dibutuhkan 4 gelas sayur dan buah. Melihat porsi sayur mayur dan bebuahan kita yang rata-rata kecil, kecukupan serat harian kita rata-rata memang tidak tercapai.

Bukan hanya sayur mayur dan bebuahan

Walau sayur mayur dan bebuahan adalah sumber serat terbesar namun selain itu sumber makanan berserat juga dikandung dalam segala jenis sereal, kacang-kacangan, dan bahan alami seperti ganggang dan rumput laut. Begitu juga ragam padi-padian dan gandum khususnya yang tidak disosoh, yang dikonsumsi utuh.

Karena yang umumnya diketahui para ibu serat hanya berasal dari sayur dan bebuahan, akhirnya hanya bahan makanan yang itu-itu lagi yang diberikan pada si kecil. Padahal tidak selalu mudah memberikan si kecil menu sayur mayur maupun bebuahan. Karena sebagian besar anak kecil menolak bila disodorkan kedua jenis menu tersebut, apalagi sayur mayur khususnya. Maka sebagai solusi, pilihkan sumber makanan berserat lainnya yang bukan bercita rasa kedua sumber itu.

Kalau bukan karena kesalahan menyajikannya, anak menolak buah atau sayur mayur karena aroma atau citarasanya. Atau sering pula karena keliru