Memahami Olahraga Low Impact dan High Impact

ef4e35f56dadb4886a46202652f7b09934a191ea.jpeg

Gerak badan dan olahraga diperlukan selama tidak bikin badan jadi cedera. Oleh karena itu dikenal kategori aktivitas fisik, ada bentuk gerak badan atau berolahraga yang memberikan beban berat dan atau mencederai persendian, selain ada pula jenis yang tidak. Kita mengenal jenis aktivitas fisik low impact exercise, dan kebalikannya yang high impact exercise. Kedua hal  itu akan kita bahas di sini.

Low impact exercise

Di antara aktivitas fisik yang kita lakukan sebagai olahraga, bisa kita golongkan sebagai aktivitas yang tidak membebani selain tidak berisiko mencederai persendian, selama apabila sebelah tungkai masih menumpu pada permukaan tempat kita menjejakkan kaki, maka aktivitas ini tergolong low impact exercise. Jenis latihan fisik ini diperuntukkan bagi yang sudah berusia lanjut (di atas 60 tahun) selain bagi mereka yang bermasalah dengan tulang punggung, lutut, dan penyakit sendi lainnya. Walaupun tentunya tidak tertutup bagi siapa pun yang merasa latihan ini lebih cocok bagi dirinya. Tai chi, salah satunya, tergolong yang ringan itu.

Ada lebih 20 pilihan low impact exercise, di antaranya berjalan kaki, mendayung, main kayak, berenang, mendaki, golf,  dan juga yoga.  Selain itu sekarang banyak pula yang memilih pilates, dan TRX (total body resistance exercise). Bagi yang menyukai dansa, ballroom dancing tergolong yang ringan ini juga.

Namun, bagi mereka yang merasa tubuhnya membutuhkan tidak sekadar bergerak badan, bila menginginkan pencapaian aerobic, low impact exercise pun bisa meraihnya. Untuk itu tak cukup sekadar berkeringat saja, terlebih perlu meraih degup jantung sesuai target-umur, yakni sekurang-kurangnya 60% dari (220 – umur). Yang berumur 60 tahun, dinilai baru meraih aerobic apabila degup jantung selama menempuh low impact exercise-nya sekurang-kurangnya sudah 60% dari 160 atau 96 degup per menit. Sudah berkeringat saja tapi degupnya kurang dari itu, belum dikategorikan aerobic.

High impact exercise

Kebalikan dari yang low impact exercise, sudah disebut semua kegiatan fisik apakah hanya sekadar gerak badan, senam, atau berolahraga yang memberikan beban lebih berat pada persendian, dan lebih berisiko menimbulkan cedera, tergolong high impact exercise.

Melihat beban yang harus dipikul oleh persendian dialami lebih berat, maka latihan jenis ini tidak dianjurkan bagi kelompok usia lanjut, dan dianjurkan bagi yang berusia lebih belia, dengan catatan tidak punya masalah dengan persendian, maupun otot. Orang muda tapi mengidap penyakit tulang belakang, sebaiknya tidak memilih high impact exercise.

Semua jenis gerak badan dan olahraga yang mengangkat kedua tungkai bersamaan, tanpa sisi sebelahnya masih menopang tubuh, tergolong high impact exercise. Lari cepat, aktivitas dengan gerakan melompat, atau meloncat, dan yang sejenis itu  terbilang lebih berat dibanding yang low impact, maka tidak dianjurkan untuk mereka yang sudah berusia lanjut, selain yang bermasalah dengan jantung, dan atau paru-paru.

Sama halnya dengan pilihan low impact exercise, pilihan high impact pun terlebih mudah untuk meraih aerobic.

Apa pun jenis pilihan exercisenya, selama degup jantung memasuki zona aerobic sebagaimana sudah diungkap di atas, manfaat aerobic akan diraih.

 

Dengan memahami perbedaan dari kedua jenis aktivitas olahraga ini, dan mengetahui olahraga mana-mana saja yang termasuk

 

low impact

 

atau

 

high impact exercise,

 

kita akan bisa memilih olahraga mana yang paling sesuai dengan kondisi dan kebutuhan tubuh kita.  Tentunya pemilihan olahraga ini juga harus disertai dengan pengetahuan yang mendalam tentang tubuh kita. Selamat berolahraga!

 

 

Daftarkan email Anda untuk informasi terkini