4 Infeksi Kulit yang Sering Terjadi pada Anak

alt-1b.jpg

Hampir semua anak pernah mengalami gangguan kulit, dari sekedar bentol hingga alergi kulit yang parah. Dan hampir semua anak pernah mengalami infeksi kulit akibat kuman, dari bisul hingga kutil. Kapan anda waspadai dan perlukah ke dokter?

Infeksi adalah masuknya kuman yang menyebabkan gangguan pada tubuh. Karena adanya kuman, infeksi adalah penyakit yang bisa berpindah alias menular. Anak-anak dengan ciri khasnya bermain dan berinteraksi termasuk kelompok yang rentan tertular meski sebesar apapun usaha anda menjaganya.

Untungnya, sebagian besar infeksi kulit tak berbahaya. Jadi, anda tak perlu melarang anak bermain hanya karena takut terkena infeksi kulit. Inilah empat infeksi kulit yang sering mengenai anak menurut survei para ahli dunia, seperti dimuat di jurnal kedokteran terkemuka, British Medical Journal.

Kutil Berkelompok (Molluscum Contagiosum)
Ibu Sarah resah gelisah. Muncul bintil-bintil seperti mutiara berwarna coklat muda di kulit anaknya, Dinar, 5 tahun. Bintil-bintil itu berjumlah banyak dan berkelompok, berbentuk kubah dengan lesung ditengahnya. Letaknya di daerah dada dan punggung. Bila dipencet, keluar isi seperti nasi berwarna putih kekuningan. Rasanya menggelikan melihat kulit mulus anaknya memiliki bintil-bintil seperti kutil berukuran hingga 1 cm.

Menurut istilah kedokteran, kutil berkelompok berbentuk seperti mutiara tersebut dinamakan molluscum contagiosum, dan sesuai namanya bersifat contagious atau menular. Penyakit kulit ini adalah infeksi kulit yang umum terjadi, disebabkan oleh kuman poxvirus dan sering mengenai anak-anak usia 2 sampai 5 tahun, namun orang dewasa pun bisa terkena atau menjadi sumber penularan. Biasanya, kuman menular langsung karena bersentuhan dengan kutil atau kontak dengan anak yang sedang terinfeksi, misalnya saat mandi atau berenang bersama.

Meskipun tampaknya amat mengganggu, infeksi kulit ini ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya. Pada anak yang sehat, kutil dapat bertahan selama 6 hingga 8 minggu yang kemudian perlahan menghilang tanpa bekas. Tetapi karena molluscum dapat menulari kulit sekitarnya, bisa jadi membutuhkan sekitar 8 bulan untuk sembuh sempurna. Terlebih, kebiasaan terus menggaruk membuat kutil molluscum ini terinfeksi kuman lain sehingga bernanah dan menimbulkan bekas.

Biasanya, sang Ibu tak tahan melihat kulit anaknya berbintil-bintil sehingga pengobatan dari dokter menjadi pilihan. Beberapa terapi seperti ekstrasi (pengangkatan) atau pembakaran kutil dengan zat kimia dapat dilakukan untuk mengangkat kutil namun bisa menimbulkan nyeri saat terapi dan beberapa penelitian mengatakan hasilnya sama saja dengan sekedar pengamatan.

Selain itu, dokter bisa memberi salep bersifat asam yang dapat mengikis kutil atau salep pencegah penyebaran kutil sehingga lebih cepat sembuh tanpa bekas. Meskipun banyak alternatif pengobatan, para ahli tetap menyarankan menunggu hingga sembuh karena sebenarnya penyakit ini dapat hilang dengan sendirinya.

Kutil Virus (Viral Warts)
Ade, seorang remaja yang aktif beberapa hari ini berjinjit jika berjalan. Sebuah kutil alias mata ikan “menghiasi” telapak kaki kanannya membuat langkahnya terhambat. Mata ikannya makin besar, keras dan tepiannya menonjol membuat nyeri setiap kali kaki menapak. Yang membuat khawatir, sebentar lagi turnamen basket dimulai. Sudah berbagai cara ia coba sendiri menghilangkan kutil membandel ini, tetapi tetap saja muncul kembali. Sungguh merepotkan.

Kutil memang tak asing lagi dan pada suatu masa dalam kehidupan, seseorang bisa jadi pernah terkena kutil ini. Bentuk kutilnya bisa bermacam-macam dan dapat mengenai kulit ataupun telapak tangan dan kaki. Secara definisi kedokteran, viral warts adalah pertumbuhan berlebih lapisan luar (epitel) kulit yang jinak dan disebabkan kuman human papillomavirus.

Virus human papillomavirus seperti kuman lainnya dapat berpindah alias menular dan bersifat sembuh sendiri. Sayangnya pada beberapa orang, jenis kutil ini bisa bertahan lama dan bahkan bertambah banyak atau besar sehingga pengobatan diperlukan. Kutil ini mulai muncul pada usia anak, meningkat pada saat remaja, dan menghilang sendiri selamanya. Sebelum kutil menghilang, biasanya akan muncul jaring-jaring kehitaman di area kutil akibat kematian kapiler darah.

Biasanya kutil akan hilang sendiri dalam waktu dua tahun. Namun, orang tua kerap tak sabar sehingga akhirnya mereka akan pergi ke dokter atau mencoba menghilangkannya sendiri. Menghilangkan kutil bisa dilakukan dengan salep asam salisilat yang merupakan pilihan pengobatan kutil, terapi beku (krioterapi) dengan efek samping nyeri dan meninggalkan bekas, ataupun dengan larutan silver nitrat dan glutaraldehid.

(PT. Nestlé Indonesia bekerja sama dengan Majalah Anakku)

Impetigo
Yuni bingung melihat di tubuh anaknya muncul lenting-lenting seperti cacar. Lenting itu pecah membentuk kerak kuning keemasan. Karena khawatir, Dinar memeriksakan anaknya, namun dokter bilang itu bukan cacar, tetapi infeksi kulit yang disebut impetigo.

Impetigo adalah infeksi permukaan kulit dengan ciri adanya kerak berwarna keemasan. Infeksi ini menuruti urutan ketiga penyakit kulit tersering pada anak setelah eksim dan kutil. Paling sering menyerang usia 2-6 tahun. Menular lewat kontak langsung, misalnya dengan memegang keraknya. Kuman ini juga bisa bersarang di daerah lubang hidung sehingga menimbulkan kekambuhan. Selain itu, anak yang eksim juga sering terkena.

Impetigo memiliki dua karakteristik. Ada yang diawali dengan lenting atau bisul yang kemudian pecah membentuk kerak kuning keemasan. Biasanya jenis ini tak disertai demam, sering mengenai daerah muka dan anggota badan, serta bisa menular kesekitarnya. Bentuk kedua dicirikan dengan gambaran gelembung seperti tetesan embun di kulit berisi cairan, atau gelembung besar seperti luka bakar. Impetigo ini disertai gejala sistemik seperti demam atau tak enak badan, nyeri, dan cepat menyebar. Sering terdapat pada daerah mulut dan hidung atau berkelompok di lipatan tubuh.

Impetigo haruslah diobati untuk menghilangkan bakteri penyebabnya. Dokter akan meresepkan antibiotika yang disesuaikan dengan kondisi anak. Ada dua jenis antibiotika, yang diminum atau dioleskan tergantung dari luasnya infeksi. Terkadang pada yang berat, antibiotika bisa diberikan dengan cara keduanya.

Jamur Kepala
Martha kaget sekali ketika ia menyisir rambut anaknya. Rambutnya rontok cukup banyak dan muncul seperti pitak di kepalanya. Aduh, ada apa ini? Yang membuat khawatir, pitak ini bertambah lebar dan dokter mendiagnosis anaknya terkena jamur kepala.

Ternyata, selain ketombe ataupun eksim, kepala pun bisa terserang jamur. Bentuknya bermacam-macam tetapi tak akan sembuh dengan shampo anti ketombe, bahkan bertambah banyak bila diobati salep untuk eksim. Ada yang memang menyerupai ketombe tanpa gambaran pitak yang jelas, ada pula botak setempat dengan ujung rambut yang patah-patah atau kulit di area tersebut kasar dan tak sehat. Jamur kepala perlu dicurigai bila ada kebotakan dengan kulit kepala mengelupas atau berkerak.

Dokter akan memastikan penyebab kebotakan pada anak ini dengan mengambil spesimen rambut atau kerak dan akan memberikan obat anti-jamur yang sesuai. Jamur di kepala memang sulit hilang sendiri tanpa bantuan obat.

Pintar Deteksi Sendirinya
Tak perlu panik ataupun malah menyepelekan infeksi kulit pada anak. Yang penting adalah cermat mengamati kulit anak, menjaga kebersihannya, dan mengenali kelainan kulitnya sehingga bisa diyakinkan, ini berbahaya atau tidak, bisa sembuh sendiri atau perlu ke dokter. Dengan demikian, selain menghemat waktu anda, uang anda, juga membuat hati tenang.

Referensi:
Sladden MJ, Johnston GA. Common skin infections in children. BMJ 2004;329;95-99

(PT. Nestlé Indonesia bekerja sama dengan Majalah Anakku)