Gula Dapat Membuat Candu, Benarkah?

15c76d1409c2e92e33874a14517ec448b03c45e2.jpeg

Mendengar istilah candu, sebagian besar orang akan mengarahkan pikirannya pada hal-hal yang berbau negatif. Bukan hanya narkoba dan alkohol saja yang memberikan efek candu. Secara harfiah candu memiliki makna ketergantungan atau tertarik untuk mengonsumsi suatu makanan dalam waktu yang relatif sering. Memang selama ini yang cukup populer adalah narkotika dan alkohol. Namun, tahukah Anda bahwa candu dapat juga timbul dari asupan yang sebenarnya aman dan tidak berbahaya seperti gula.

Meski tampak aman-aman saja, sebenarnya gula juga melepaskan zat kimia yang membuat otak merasa bahagia saat mengonsumsinya. Dalam hal ini adalah dopamin yang merupakan wujud produksi dari sel-sel khusus saraf.  Efek candu ini akan memiliki masa ketergantungan yang bertahap atau cenderung mengalami peningkatan sejak asupan yang pertama. Hal ini diakibatkan dorongan dopamin yang semakin meningkat, sehingga memaksa Anda atau bahkan si kecil untuk makan gula secara berlebihan.

Tidak jauh beda dengan zat candu lainnya seperti kafein, kokain atau nikotin, zat kimia yang ada dalam gula juga akan memberikan dampak pada tubuh saat menolak untuk mengonsumsinya. Pada orang dewasa akan timbul rasa cemas,  gemetar hingga gigi bergemeretak. Sedangkan pada anak-anak akan langsung menangis sejadi-jadinya dan baru bisa diam bila Anda memberikan gula kepadanya. Hal ini terjadi jika tingkat kecanduan gula sudah cukup akut. Demikian yang disampaikan oleh Andrew Weil, MD., praktisi kesehatan Amerika Serikat dalam lansirannya di Prevention.

Menurut Andrew Weil, bila candu tersebut benar-benar akut, maka perlu dilakukan pengobatan atau mungkin program rehabilitasi yang tak jauh beda dengan orang yang kecanduan narkoba. Namun, jika masih sebatas kecanduan biasa, Anda dapat melakukan pencegahan dengan cara-cara yang cukup mudah pula. Salah satu cara yang bisa diterapkan adalah program diet gula. Cara ini memang yang cukup tepat untuk memangkas ketergantungan diri terhadap gula.

Dibutuhkan waktu sekitar seminggu untuk benar-benar bisa mengurangi beban asupan manis dalam tubuh. Anda bisa mengontrolnya dari asupan makanan yang rendah gula hingga memilih asupan gula yang tidak berisiko meningkatkan gula darah. Sebut saja gula jagung yang sangat rendah kalori. Bila Anda dapat melalui proses ini dengan benar, maka bukan tidak mungkin kesehatan tubuh Anda bisa tetap dipertahankan. Sebab, semakin banyak gula yang dimakan, maka semakin besar risiko mengalami penyakit gula semacam diabetes. Pungkas Andrew Weil dalam lansirannya.

Daftarkan email Anda untuk informasi terkini