Giliran Ayah Jadi “Kuda”

8c82f74d0b5de573998de67c2995491abaed6987.jpeg

Ingin lebih dekat dengan si kecil? Luangkan waktu bermain dengannya. Tak perlu waktu lama, yang penting berkualitas.

“Sekarang giliran ayah yang jadi kuda, jalannya pelan-pelan yah,” pinta Zia pada ayahnya. Hup! Bocah berumur 3 tahun itu naik ke atas punggung ayahnya. Meskipun masih lelah sepulang kerja, Fahmi menuruti permintaan putrinya. Ia pun berlagak seperti kuda berjalan dengan kaki dan tangannya, kemudian menyeringai seperti kuda “Hiiyyyyy…”

Semakin Dekat Semakin Lekat
Mungkin Anda pun pernah melakukan hal serupa Fahmi. Bermain bersama anak meskipun lelah masih terasa. Sebuah kegiatan yang tampak sederhana. Tapi tahukah Anda, bahwa apa yang telah Anda lakukan memiliki dampak positif. Tak hanya bagi si kecil tapi juga bagi ayah.

Bermain dengan anak dapat meningkatkan ikatan emosi atau emotional bonding antara ayah dan anak. Saat bermain, hampir tidak ada jarak antara anak dan orangtua (dalam hal ini ayah).

Komunikasi yang responsif antara Anda berdua akan terjalin dengan baik. Dampak ke depannya, anak terbiasa mengungkapkan pendapatnya kepada orangtua (ayah). Sebaliknya ayah juga dapat dengan mudah menyampaikan pesan pada si kecil. Komunikasi positif seperti ini akan menghindarkan anak dari pengaruh buruk yang mungkin ditemuinya kelak.

Selain itu, jika selama permainan Anda banyak memberikan pujian dan dukungan pada anak, maka anak akan terdorong untuk menjadi lebih berani dan lebih mudah membuat keputusan untuk memilih tindakan yang sesuai.

Bermain dengan anak adalah sarana yang sangat cocok untuk menularkan nilai-nilai dan aturan-aturan yang berlaku dalam keluarga dan juga masyarakat yang lebih luas. Dengan bermain, penularan nilai ini akan berlangsung dengan cara konkrit, sehingga anak lebih mudah memahami. Berbeda dengan nasihat, yang cenderung menuntut kemampuan abstraksi berpikir.

Pada saat bermain interaksi antara ayah dan anak semakin intim dan mesra. Ini merupakan perwujudan dan rasa kasih sayang yang tidak dapat digantikan oleh apapun. Akibatnya, anak merasa dicintai dan diterima di dalam keluarganya. Hasilnya, self concept dan rasa percaya diri anak akan berkembang dengan baik.

Bermain efektif dan efisien
Bagi ayah yang sibuk, waktu bermain dengan anak relatif terbatas. Tapi, ini bukan alasan untuk tidak bermain dengan anak. Bermain adalah kegiatan yang dapat dilakukan tanpa waktu khusus dan tak perlu waktu lama. Mungkin hanya 20-30 menit. Selama bermain dilakukan dengan efektif Anda akan mendapatkan manfaatnya. Bagaimana caranya?

  1. Lakukan sepenuh hati
    Saat Anda bermain dengan anak, pastikan pikiran Anda tidak berada di kantor atau pada pekerjaan Anda. Ketrelibatan yang sedikit tapi sepenuh hati lebih berharga daripada perhatian setengah hati yang lama.
  2. Jadilah teman yang kreatif dan menyenangkan
    Cobalah ciptakan permainan yang baru dan lebih menarik. Bila Anda kehabisan ide, tanyakan pasa anak apa yang diinginkannya. Ikuti imajinasi anak jika masih mungkin dilakukan. Bermainlah dengan penuh ekspresi.
  3. Pilih jenis permainan
    Tidak perlu menyediakan permainan yang mahal. Gunakan benda di sekitar kita sebagai alat bantu permainan. Selain lebih mudah, ini dapat membangkitkan kreativitas dan imajinasi anak. Misalnya, memanfaatkan sofa sebagai perahu.
  4. Jangan kecewakan anak
    Jangan berjanji mengajak si kecil bermain bila Anda tidak dapat menepatinya. Pun jangan menunda-nundanya. Selain merusak kepercayaan anak pada Anda, si kecil akan kecewa.
  5. Berhenti sebelum kesal
    Jika Anda mulai gelisah dan menguap setelah 20 menit bermain bersama si kecil, berhentilah sebelum rasa kesal merasuki Anda. Sebelumnya berikan peringatan terlebih dahulu. Misalnya “Kuda (peran ayah) akan berkeliling sekali lagi, lalu berstirahat di kandang.” Si kecil pun akan paham behwa kegiatan bermain sudah selesai.

Agar betah bermain bersama anak

  1. Singkirkan cara-cara dewasa Anda dan masuklah ke dalam dunia imajinasi anak.
  2. Biarkan anak ikut memilih permainan yang akan dimainkan.
  3. Biarkan anak melakukan kesalahan, lalu segera perbaiki agar kesalahan tidak terulang lagi. Jika kita menunda sementara kesalahan semakin bertumpuk, maka kita akan cenderung lebih agresif dalam melakukan koreksi. Ini akan membuat ayah dan anak enggan melakukan permainan bersama.
  4. Bermainlah dengan cara anak bukan cara Anda.

Referensi
Joslin, Karen Renshaw Possitive parenting From A to Z. New York: Fawcet Columbine. 1994

Daftarkan email Anda untuk informasi terkini