Di Balik Fenomena 'Wanting a Girl, Having a Boy'

4621c9e1be4756e7a9187298bb03f069262bcb76.jpeg

Seolah tak lengkap peran seorang istri sebelum memiliki buah hati. Wanita mana yang tak ingin menjadi seorang ibu? Mereka begitu menantikan momen mengandung, merasakan sakit dan bahagianya melahirkan, menimang, memberi makan juga memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Jika satu wanita bisa berbahagia lantaran bisa merasakannya lebih cepat, ada juga yang harus bersabar sampai akhirnya bisa dikaruniai seorang anak.

Hal itu pun membuat wanita berharap penuh dengan keinginan untuk memiliki momongan. Mereka juga berharap anak pertamanya berjenis kelamin tertentu. Bagi mereka yang suka dengan sosok putri yang cantik dan ingin membuat anaknya kelak secantik putri tersebut, dia berharap anak perempuan. Sebaliknya, wanita yang memiliki idola artis, selebritis atau tokoh pria berpengaruh baik karena kewibawaan maupun kepintarannya, cenderung berharap anak laki-laki.

Harapan wanita oleh para peneliti di Amerika disebut sebagai fenomena wanting a girl, having a boy. Bukan tanpa alasan, sebab hasil pembuahan tidak bisa secara langsung menentukan jenis kelamin anak yang dikandung. Walhasil, harapan yang diinginkan oleh sebagian besar wanita tersebut tak selamanya bisa diwujudkan. Awalnya mengharap anak laki-laki yang lahir ternyata perempuan atau begitu juga sebaliknya.

Fenomena itu seketika patah ketika wanita yang sudah menjadi ibu mulai sadar bahwa baik anak laki-laki maupun perempuan sama-sama baiknya. Mereka juga meyakini bahwa hal ini sudah menjadi garis takdir dan hadiah istimewa dari Tuhan yang harus dirawat dan dijaga dengan sebaik-baiknya. Pada saat ini juga, naluri alami seorang ibu keluar. Ibu akan mulai menyayangi anaknya dengan sepenuh hati.

 

Lebih dari itu, pengorbanan pun mulai berani dilakukan wanita yang sudah berstatus menjadi seorang ibu. Dalam arti lain, ibu akan menyuapi anaknya, membersihkan kotorannya dan mengutamakan segala hal yang dibutuhkan oleh anaknya. Ibu rela melakukannya setiap hari, sampai-sampai lupa mengurusi dirinya sendiri. Tak heran jika kedekatan seorang anak lebih kuat kepada ibunya dari pada sang ayah.