Bubur, Sarapan Favorit Orang Indonesia di Mata Ahli Gizi

b623a546f278f61704aa2e13bced4a3a0a10f83f.jpeg

Sarapan dengan menu makanan sehat di pagi hari tak harus melulu dengan nasi. Bagi orang Indonesia, bubur menjadi salah satu menu sarapan favorit di pagi hari. Namun, apakah bubur bisa dijadikan menu sarapan yang sehat? 

Sebagai menu makanan pengganti nasi, bubur juga merupakan sumber karbohidrat. Menurut Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS), Departemen Gizi Kemenkes RI, dari total kalori sebanyak 372 kkal per 240 gram porsi sajian, kandungan karbohidrat dalam bubur sebanyak 36,12 gram. Dengan jumlah karbohidrat tersebut, Ibu pun sudah bisa merasa kenyang meski tidak sarapan menggunakan nasi putih.  

 

Baca Juga: Membuat Bubur yang Lembut Ada Triknya, Lho

 

Namun menurut Prof. Dr. Ir. H. Hardinsyah, MS, ketua dari Persatuaan Ahli Gizi (PERGIZI) Pangan Indonesia, meskipun bubur mudah dicerna sehingga membuat perut terasa lebih nyaman di pagi hari. Namun tidak semua orang cocok menjadikan bubur sebagai menu sarapan utamanya. 

Untuk anak-anak dengan aktivitas yang padat, bubur memang cocok dijadikan sebagai menu sarapan, karena ringan untuk dikonsumsi di pagi hari. Selain itu, kandungan karbohidrat dalam bubur lebih mudah dipecah menjadi gula lalu dibakar menjadi energi, mengingat anak-anak sangat aktif dalam beraktivitas.

Berbeda dengan orang dewasa yang justru membutuhkan sumber karbohidrat kompleks yang tidak mudah dipecah agar gula darah tidak naik terlalu cepat. Oleh karena itu menjadikan bubur sebagai menu sarapan sehat untuk orang dewasa, rasanya kurang tepat, karena bubur cepat menimbulkan rasa lapar sehingga akan merasa kekurangan energi.

Hal tersebut juga diperkuat oleh pernyataan dari Angelica Gabriel, Nutrilite Consultant, yang menyatakan bahwa di dalam semangkuk bubur ayam hanya terdapat 4 gram protein. Padahal orang dewasa membutuhkan sekitar 1 gram protein per kilogram berat badannya setiap hari.
Misalnya sesorang dengan berat badan 60 kg maka membutuhkan 60 gram protein, jadi pada saat sarapan setidaknya harus memenuhi takaran protein sekitar 20 gram. Dengan jumlah kandungan protein yang sangat sedikit dalam semangkuk bubur, tentu saja bubur tidak bisa dijadikan sebagai menu sarapan sehat. Karena protein dalam menu sarapan dibutuhkan oleh tubuh untuk melengkapi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan tubuh, yakni untuk pembentukan otot, tulang, kulit, dan sel darah dan memperbaiki jaringan tubuh.

Dengan teksturnya yang semi cair, menyebabkan bubur tidak mudah untuk tetap berada lama di dalam tubuh. Bubur mengandung lebih banyak air, sehingga akan melemahkan fungsi pencernaan dan meningkatkan beban pada perut. Sering makan bubur juga akan berakibat buruk dalam jangka panjang, yakni akan menurunkan fungsi pelindung dan membran perut mukosa karena perut kekurangan latihan dalam mencerna, hingga menyebabkan kerusakan pada dinding lambung.

Semangkuk bubur tidak mengandung semua kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan dalam menu sarapan. Seperti yang diketahui, sarapan pagi seharusnya dapat memenuhi sebanyak 25 sampai 30% dari total angka kebutuhan gizi (AKG) yang diperlukan tubuh setiap harinya, yakni karbohidrat kompleks, protein tinggi, serat, vitamin dan mineral. Namun di dalam semangkuk bubur tidak terdapat asupan sayuran untuk memenuhi asupan vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.

Daftarkan email Anda untuk informasi terkini