Mewarisi Nilai-nilai Luhur pada Anak-anak

a73fcbd925bae911f1b6aa829e1c5cc9a17cfdd3.jpeg

Sebagai bangsa yang kaya nilai, tradisi, dan budaya, kita punya banyak kesempatan untuk mewariskan nilai-nilai itu kepada anak-anak. Kesempatan yang paling besar adalah saat Hari Raya Idul Fitri. Di sini ada tradisi mudik, tradisi kumpul keluarga, tradisi saling memaafkan sesama tetangga, tradisi berbagi kepada para pihak yang kurang beruntung, dan lain-lain dan seterusnya.

Secara teori, mewariskan nilai pada anak-anak yang masih duduk di bangku SD itu punya efek yang luar biasa. Ini terkait dengan apa yang disebut Golden Age. Golden Age adalah masa keemasan yang dimiliki manusia sepanjang hidupnya. Disebut golden karena pada masa itu berbagai cetak biru manusia (sifat, karakter, moralitas, dst) mudah dibentuk dasarnya.

Berbagai kajian mengungkap bahwa masa keemasan itu terjadi dua kali dalam diri anak. Yang pertama adalah ketika usianya menginjak dari nol sampai enam tahun. Sedangkan yang kedua terjadi pada usia tujuh sampai duabelas tahun. Apakah setelah masa itu anak-anak sudah tidak menerima masukan lagi dari orangtua? Tentu bukan seperti itu. Si anak akan tetap bisa belajar sampai usia kapan pun hanya memang tingkat kecepatan menangkapnya agak beda (mulai melambat).

Anak kecil yang diajari atau belajar langsung bagaimana orangtuanya menghargai hubungan silaturrahim dengan keluarga, pasti akan membekas. Anak kecil yang diajari langsung bagaimana ber-empati, pasti akan mewarnai sifatnya. Anak kecil yang belajar kejujuran, pasti akan terbawa.

Banyak anak yang mudah menjadi pemimpin karena melihat orangtuanya. Itulah kenapa teori pendidikan sendiri mengakui bahwa keluarga adalah lembaga yang pertama kali dimasuki anak-anak.

Kalau mau berpikir gampangnya, tanpa kita ajari pun mereka nanti akan tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik. Cuma, untuk urusan nilai yang membentuk sifat dan karakter, masalahnya bukan di tahu atau tidak tahu. Masalahnya adalah, apakah nilai itu dijalankan dengan komitmen atau tidak.

Itulah bukti bahwa mengandalkan pengetahuan saja sama sekali tidak cukup untuk menanamkan dan mewariskan nilai. Secara prinsip, nilai itu hanya akan dapat diwariskan dengan:

Pertama, keteladanan. Dalam pendidikan, keteladanan itu bukanlah salah satu metode, melainkan satu-satunya. Kita hanya bisa mengajarkan silaturrahim dengan membuktikan kasih sayang terhadap sesama (keluarga atau orang lain), mengajarkan kejujuran dengan membuktikan kejujuran, mengajarkan produktivitas dengan membuktikan kerja keras.

Kedua, penjelasan. Dalam pembelajaran, story-telling termasuk media yang sangat ampuh untuk menanamkan nilai. Kita bisa bercerita bagaimana dulu kita dididik untuk saling berbagi, memperjuangkan keinginan, dan seterusnya. Jika si anak masih terus bertanya, kesempatan buat kita untuk menjelaskan apa yang perlu dipelajari dari pengalaman kita itu.

Ketiga, pembiasaan. Sama sekali tidak cukup mewariskan nilai dengan sekali aksi. Idealnya, supaya nilai-nilai itu benar-benar menancap, harus ada pembiasaan. "Manusia adalah anak dari kebiasaannya", begitu orang bijak berpesan. Semoga bermanfaat.

Daftarkan email Anda untuk informasi terkini