Terlalu Lama Duduk Picu Penyakit

bbda6eb939eda863ef7f426efbebf974acfde36e.jpeg

Sejatinya tubuh kita itu perlu lebih dibawa bergerak, bukan diam. Namun, kebanyakan dari kita melawan kodrat tubuhnya dan melewati harinya dengan lebih banyak duduk yang kemudian memunculkan penyakit sitting syndrome. Apa saja dampaknya sehingga memunculkan penyakit atau sindroma seperti itu kita membahasnya di sini.

RATA-RATA orang sekarang duduk 8 jam dalam sehari baik karena alasan pekerjaan, maupun  lantaran gaya hidup. Pekerja kantor, anak sekolah, dan tuntutan hidup di perkotaan yang cenderung banyak tinggal di dalam rumah ketimbang menjelajahi alam sekitar. Duduk membaca, asyik di depan monitor komputer, nonton televisi, atau duduk bercengkerama dengan kelompok, atau teman, dan sejenis itu bukan pola keseharian yang ditemukan di pedesaan.

 

Hilangnya permainan tradisional

Anak sekarang bermain sambil duduk. Asyik dengan games, selain duduk membaca. Tak ada lagi main petak umpet, kejar-kejaran, dan semua bentuk perminanan yang polanya berlari.

Di setiap daerah begitu beragam permainan tradisional berlari, melompat, dan menjelajah alam dan itu yang membentuk struktur tubuh anak menjadi atletik, selain mentalitas yang lebih akrab dengan alam.

Memberikan keleluasan bagi anak untuk lebih aktif secara fisik membentuk struktur tubuh yang lebih kokoh tulang dan ototnya. Oleh karena itu apa pun bentuk kegiatan fisik yang dibuat lebih harus menjadi bagian dari tradisi baru di sekolah agar ramah pada jantung mereka (“Cardio friendly”). Anak perlu lebih banyak bergerak, demi terhindar pula dari serangkaian penyakit yang menjadi risiko mayoritas orang sekarang.

Serangan jantung koroner dan stroke menimpa usia lebih muda dibanding dua generasi sebelumnya. Gaya hidup kurang gerak (sedentary lifestyle) salah satu penyebabnya.

 

Sitting diseases

Banyak kerugian yang dipikul tubuh bila kita terlalu banyak duduk. Punggung memikul beban lebih besar ketika kita duduk dibanding ketika kita berdiri dan berjalan. Maka selalu saja ada anjuran jangan duduk kalau kita bisa berdiri, dan jangan berdiri kalau kita bisa berjalan.

Buat kebanyakan kita sekarang ini, bukan saja kesalahan lamanya melakukan kegiatan hanya duduk, terlebih cara kita duduk pun tidak memenuhi kaidah ergonomic. Artinya beban yang dipikul pinggang dan punggung menjadi lebih besar. Selain mengubah struktur tulang belakang akibat posisi duduk tidak ergonomic, beban yang dipikul ruas tulang punggung pun menjadi berlebihan.

Beban yang dipikul lebih oleh ruas tulang punggung, memunculkan ketegangan otot-otot punggung, sehingga memunculkan penyakit encok di pinggang dan punggung. Kondisi demikian bisa dinetralkan dengan cara menyelinginya dengan bergiat fisik. Duduk yang diselingi dengan bergiat fisik meredam efek buruk duduk lama.

Gaya hidup yang keliru kebanyakan orang sekarang berdampak pada penyakit degeneratif, sudah sangat dimaklumi, selain berefek kegemukan. Jantung koroner, stroke, kencing manis, dan kegemukan, berkomplot memunculkan sindroma penyakit kebanyakan generasi masa kini.

Lakukan sendiri

Generasi remote control dan automatisasi alat menjadikan manusia sekarang cenderung pemalas. Segala sesuatu dibantu oleh yang serba mekanik, menjadikan aktivitas tubuh semakin terbatas. Bagaimana keadaan ini disiasati?

Lakukan apa saja sendiri yang bisa kita dilakukan di rumah sendiri. Menyapu, membersihkan kaca, menyemir sepatu, mencuci mobil, dan semua pekerjaan domestik, selain efisiensi, juga menyehatkan. Aliran darah lebih deras, wajah tampak lebih segar merona, pembakaran metabolisme tubuh lebih meningkat, sehingga kecil kemungkinan kelebihan berat badan, keluhan pinggang dan punggung nyaris tersingkirkan. Ajak anak-anak melakukan sendiri apa yang menjadi bagian dari tugas kesehariannya di rumah. Membereskan tempat tidurnya, kamarnya, dan mainannya, menggiatkan segenap otot dan tulang, serta persendiannya.

Kalau tuntutan pekerjaan mengharuskan lebih banyak duduk, siasati dengan lebih banyak menyelinginya dengan berdiri, dan bergiat fisik. Bagi yang sudah lebih uzur, kebanyakan duduk dalam posisi yang sama dan sedikit saja bergeser dari posisi duduknya mencetuskan penyakit DVT (deep vein thrombosis) sebagaimana acap terjadi sehabis penerbangan jauh di kelas ekonomi.

Duduk lama dengan posisi tak bergeser menghanyutkan butiran lemak dan bekuan darah dari pembuluh balik bagian dalam yang dikenal sebagai DVT itu. Untuk mencegah kejadian DVT, selingi duduk dengan lebih sering berdiri dan berjalan-jalan selama berada di pesawat. Menggerak-gerakkan lutut, tumit, dan kaki selama duduk agar aliran darah tubuh tidak mengendur.

Anak-anak sekarang terancam oleh risiko bakal memikul efek buruk dari kebanyakan duduk, yang muncul saat ini maupun setelah mereka dewasa nanti. Maka tugas semua orangtua untuk membiasakan anak meredam efek buruk kebanyakan duduknya dengan menambah bergiat fisik. Anak butuh lebih banyak berlari, bukan hanya duduk.***