Review Svarga Sempu

2e436502f93583dd726aba3de5590ee1a65133ca.jpeg

Perjalanan menemukan sepotong surga dunia di salah satu sudut Pulau Jawa.

Berawal dari iseng mengisi long weekend, saya dan empat teman tertarik mengunjungi Pulau Sempu. Di manakah itu? Tak seorang pun dari kami yang pernah mengetahuinya dengan jelas. Bermodalkan informasi minim dari internet dan arahan teman lain yang pernah ke sana, berangkatlah kami dari Jakarta dengan pesawat menuju Surabaya. Dari Surabaya ke Malang dengan mobil hanya makan waktu kurang lebih satu jam. Kami mengatur waktu agar tiba di Malang malam hari untuk langsung beristirahat.

Perjalanan ke Sempu sangat dianjurkan untuk dimulai di pagi buta, langsung dari kota Malang, karena minimnya fasilitas penginapan di sana. Sekitar jam empat pagi kami berangkat menuju Pantai Sendang Biru, kira-kira dua jam dari Malang. Pantai Sendang Biru ini adalah pantai tempat berlabuhnya perahu-perahu nelayan. Tidak ada hal yang menarik di pantai ini dan memang hanya sebagai pantai transit menuju ke Pulau Sempu. Dari pantai ini, Pulau Sempu sudah terlihat jelas. Jaraknya memang hanya sekitar 500 meter. Kami akan berlayar ke sana dengan biaya 100 ribu rupiah per kapal yang bisa memuat 10 sampai 15 orang. Kapal bisa juga berlayar mengelilingi Pulau Sempu, tentunya dengan biaya tambahan. Tapi agak menyeramkan, mengingat di balik Pulau Sempu adalah Samudera Hindia yang berarus kuat, sementara pemilik kapal tidak menyediakan pelampung sama sekali.

Semua pengunjung Pulau Sempu masuk dari sebuah dropping point berupa pantai dengan hutan bakau rindang yang letaknya di bagian utara Pulau Sempu, persis di seberang Pantai Sendang Biru. Tujuan utama ke Pulau Sempu adalah mencapai titik tercantiknya: Pantai Segara Anakan. Ternyata, letaknya di sisi lain pulau dari dropping point. Sebuah pengalaman berharga adalah karena kami mengunjungi pulau ini di musim hujan. Pagi hari itu, hujan mengguyur Pulau Sempu. Jalan menuju Pantai Segara Anakan menjadi penuh lumpur, yang menjadi santapan kami selama tiga jam! Padahal dalam kondisi kering, jarak ini butuh waktu satu jam saja. Awalnya tentu saja perjalanan terasa sangat berat, meski lambat laun kami mulai terbiasa. Ternyata, sangat tidak disarankan berpetualang di Pulau Sempu pada musim hujan, kecuali Anda memang mencari tantangan. Beberapa sisi jalan menjadi basah, berlumpur dan sangat licin, padahal letaknya di tepian terjal di sisi laut Segara Anakan. Sepatu olah raga adalah sahabat yang paling tepat.

Bagi kami, perjalanan ini sangat panjang dan menantang. Untunglah, akhirnya kami sampai di lokasi yang di mata saya seperti surga dunia. Bagi saya, tempat ini adalah Svarga Sempu, Heaven on Earth, Pantai Segara Anakan. Pantai kecil di lokasi terpencil yang masih terjaga dengan baik, di tengah-tengah pulau yang pernah menjadi tempat pendidikan pasukan TNI AL Indonesia. Pantai ini mendapatkan asupan air laut dari celah karang yang terletak di ujung Pulau Sempu yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Keindahan dan ketenangan Pantai Segara Anakan di dalam Pulau Sempu ini hanya dipisahkan oleh tebing-tebing karang setebal kisaran 100 meter dari hamparan luas lautan Samudera Hindia yang penuh misteri. Dari atas tebing pembatas tersebut, kami bisa menikmati indahnya Pantai Segara Anakan. Sungguh, lokasi ini mirip pantai yang ada di film “The Beach” Leonardo DiCaprio.

Air laut akan surut pada jam empat sore, jadi titik pantai di dropping point akan bergeser menjauh ke tengah pantai dan biasanya para pemilik perahu akan menolak untuk menjemput karena ketinggian permukaan air laut yang juga turun dapat merusak perahu maupun baling-baling motor perahu. Karena itu, kami harus sudah kembali ke dropping point pada jam tersebut dengan harus melintasi lagi “wahana lumpur” yang tadi pagi sudah kami pelajari seluk beluknya.

Petualangan liburan kali ini memberi warna lain dalam hidup saya. Disuguhi pemandangan alam yang mengesankan, bagi saya menjadi alternatif membuang stres yang berbeda dari sekadar menikmati fasilitas mewah yang ditawarkan gemerlap perkotaan.

Kalau ingin ke Pulau Sempu, jangan lupa:

  • Air laut akan surut pada pukul empat sore. Jadi jangan terlena hingga lupa waktu pulang.
  • Kenakan sepatu olah raga, tapi bawa sandal untuk bersantai dan satu stel pakaian ganti.
  • Siapkan makan siang ringan, dan jangan lupa membawa banyak air minum selama perjalanan karena di dalam Pulau Sempu tidak ada satupun penjual makanan yang berjualan karena ini merupakan cagar alam yang memang dijaga kemurniannya.