Mengatasi Anak yang Masih Mengompol

8ad274fc13e30673574f9b5caabf271ccea3c356.jpeg

Ngompol seringkali sudah dianggap hal yang wajar untuk anak di bawah usia enam tahun. Ada yang mengatakan sembilan tahun juga. Wajar bagaimana maksudnya? Sebetulnya, bila berbicara pengasuhan, maka wajar di sini pengertiannya bukan kelumrahan yang bisa dibiarkan terus. Tentu ada batasannya, sampai kapan mengompol itu dianggap wajar. Lebih jauh lagi, penyebab anak ngompol juga perlu kita cari tahu.

Wajar di sini pengertiannya adalah satu sisi perlu kita maklumi, namun di sisi lain, tetap kita dorong agar pada tahap tertentu ini tidak terjadi lagi sehingga ada proses yang disebut pembelajaran. Demikian juga seyogyanya untuk perilaku lain yang sering kita sebut kewajaran bagi anak.

Kembali ke soal ngompol, lalu kapan mengompol ini sudah mulai tidak bisa lagi dibilang wajar? Kapan sebaiknya kita konsultasi ke dokter? Kapan kita perlu memberi perhatian lebih serius lagi? Para ahli berpendapat bahwa jika anak mengalami hal-hal di bawah ini, maka sebaiknya orangtua harus mulai memberi perhatian:

1.  Jika usianya di atas 6-7 tahun namun masih mengompol terus di malam hari.

2.  Jika anak tiba-tiba mengompol terus padahal biasanya sudah  tidak.

3.  Jika si anak mengompol  di siang hari, dalam keadaan bangun.

Kalau melihat sejumlah  temuan di bidang kesehatan dan psikologi, ada beberapa hal yang sering terkait dengan kebiasaan anak yang seperti itu. Faktor keturunan bisa menjadi salah satunya. Malah menurut penelitian, 75% anak yang punya kebiasaan ini  terkait dengan faktor keturunan (University of Florida: Bedwetting, Heidi Liss Radunovich, dkk, 2013).

Faktor psikologis tertentu juga bisa bisa menjadi sebab, misalnya merasa tertekan dalam level yang belum mampu ia tangani, khawatir, atau cemas. Kematian, perceraian, perpisahan, pindah ke tempat baru, dan lain-lain, dapat menimbulkan kondisi psikologis tertentu kemudian bisa  membuat anak mengompol.

Gangguan komunikasi antara otak dan kandung kemih pada anak juga bisa menjadi sebab. Inilah yang disebut gangguan perkembangan. Kemungkinan lainnya adalah gangguan medis, seperti gejala diabet, infeksi saluran air, masalah ginjal, atau pernapasan.

Karena tidak ada sebab yang definitif itu, maka yang perlu kita lakukan lebih dulu adalah mengajarkan anak mempraktikkan langkah-langkah solutif. Ini antara lain mengajak ia buang air kecil sebelum tidur, tidak minum yang manis-manis sebelum tidur, mengajarkan anak untuk mengingat tanda-tanda akan ngompol lalu mengajarkan untuk membangunkan kita.

Jika masalahnya lebih ke faktor psikologis, maka seiring dengan pengalamannya dalam mengatasi persoalan hidup, kemungkinan besar ngompolnya akan sedikit demi sedikit berkurang. Tentu, bantuan kita sangat penting, misalnya menciptakan rasa aman atau mendekatkan dia pada realitas melalui bermain.

Bila sudah kita coba berbagai cara namun masih berlanjut, konsultasi dengan dokter perlu dilakukan. Intinya adalah kita sudah bersikap dan bertindak dan telah mengajak anak menjadi bagian dari solusi penting atas masalahnya.

Dukungan orangtua penting bagi segala aspek dalam perkembangan anak. Termasuk soal kebiasaan mengompol ini. Proses toilet training juga perlu dilakukan pada saat yang tepat dan dengan cara yang tepat pula.

 

Segala hambatan dalam yang kita temui dalam perkembangan anak harus selalu dihadapi dengan sikap sabar dan positif, agar kita selalu bisa memberikan yang terbaik bagi si Kecil.