Melatih Kematangan Dalam Mengambil Keputusan

dc11e35960e0dfef52d697b41fedec3d8e702d82.jpeg

Setiap saat sebenarnya kita mengambil keputusan, terlepas itu kita sadari atau tidak. Dan pada setiap keputusan yang kita pilih itu, ada realita yang akan menjadi konsekuensinya.

Misalnya, begitu kita memutuskan untuk memilih pikiran negatif terhadap lingkungan kerja (sadar atau tidak), maka hubungan kita dengan kantor langsung ikut-ikutan negatif. Meski mungkin kita bisa menutupi kenegatifannya dari orang lain, tapi realitas di dalam diri kita tentu tidak mungkin disangkal.

Lebih-lebih jika kita sudah menciptakan keputusan lahiriah, yang memunculkan sikap tertentu atau tindakan tertentu. Respon dari orang lain atau alam tentu langsung ada. Makanya ada yang bilang, “Nasib Anda ditentukan oleh choice (pilihan), bukan oleh chance (peluang).” Sayangnya, tidak semua keputusan yang kita ambil itu membuahkan hal-hal positif buat kita di hari ini atau hari esok.

Kenapa itu terjadi? Salah satu sebabnya adalah karena kita reaktif, alias mudah terbawa nafsu atau terbawa emosi, tidak mencoba berpikir jernih dari berbagai perspektif dahulu, atau hanya melihat kepentingan sesaat.

Misalnya, begitu dikoreksi atasan langsung pengen pindah. Atau, begitu ada masalah dengan teman kerja, langsung membenci, tanpa klarifikasi.

Sebetulnya, kita memutuskan apapun itu sah-sah saja, sejauh tidak melanggar hukum dan sejauh itu menyangkut hidup kita sendiri. Kita bisa bilang suka-suka-gue. Cuma, ketika kita harus bicara keputusan seperti apa yang pengaruh manfaatnya lebih luas, maka sudah pasti kita harus berpikir lebih matang.

Cirinya seperti apa? Ciri keputusan yang matang itu ada dua, yaitu harus memiliki courage (keberanian) dan harus memiliki berbagai consideration (pertimbangan) secara seimbang. Kalau hanya courage yang kita miliki, bisa jadi keputusan yang nekat, ngawur, dan bahkan merugikan.

Sebaliknya, kalau hanya consideration yang kita miliki, langkah kita bisa mandek, karena yang dilakukan hanya sekedar mempertimbangkan saja, tapi kurang aksi. Merugikan juga ujungnya.

Untuk melatih keduanya, kita bisa belajar dari kesalahan dan pengalaman. Juga belajar memutuskan sesuatu berdasarkan fakta (bukan opini atau perasaan). Dan juga yang tidak kalah penting adalah seimbang antara kepentingan diri sendiri dan orang sekitar, serta seimbang antara melihat kepentingan hari ini dan hari esok.