KAPANKAH PEKERJAAN DAPAT MENGHILANGKAN STRESS?

b33c7c1c7ae8d67690fa7f63a0b39a1091d9c26f.jpeg

Bisakah kita menghilangkan stress dengan bekerja? Bukankah pekerjaan itu merupakan sumber stress juga?

Manusia itu adalah makhluk dengan kemampuan yang sangat unik dan kebebasan yang tak terbatas. Apa yang semula menjadi sumber stressor dapat diolah menjadi sumber solusi. Sebaliknya, apa yang awalnya menjadi sumber solusi, dapat berubah menjadi sumber stress.

Contoh yang paling riil adalah pekerjaan. Pekerjaan itu akan menjadi sumber stress apabila ukurannya berlebihan (too much or too less). Misalnya orang mengharuskan dirinya atau diharuskan oleh manajemen dengan target yang terlalu tinggi menurut ukurannya. Pasti akan stress, namanya stress kerja.

Tapi kalau orang di kantor banyak menganggurnya, ia juga akan merasakan kehampaan. Ini karena bekerja sendiri termasuk sumber kebermaknaan hidup. Orang tidak bisa memilih antara bekerja atau tidak. Orang harus bekerja untuk mendapatkan guna dan makna.

Pekerjaan juga dapat menjadi sumber stress apabila kita selalu mengembangkan penghayatan negatif. Misalnya jarang bersyukur, selalu mengembangkan opini negatif, sedikit-sedikit merasa tertekan, dizalimi, dan seterusnya.

Pikiran yang kita kembangkan pasti akan mempengaruhi perasaan. Stress muncul tidak selalu karena kenyataan, tapi bisa juga karena pikiran atau penghayatan.

Dengan penghayatan yang positif, pekerjaan yang menjadi positif. Misalnya kita menghayatinya sebagai lahan meningkatkan pendapatan, ruang pengembangan diri, memahami tugas sebagai tantangan, bukan tekanan, membantu merealisasikan target keluarga, ibadah, dan seterusnya.

Seperti yang diajarkan agama, orang yang bersyukur akan mendapatkan nikmat. Sebaliknya, orang yang menolak bersyukur akan mendapatkan siksa. Siksa itu bukanlah balasan yang adanya nanti, tetapi juga sekarang.

Pekerjaan juga bisa menjadi sumber stress apabila feedback kita terhadap masalah-masalah yang kita hadapi selalu tindakan negatif. Misalnya kita dikritik lalu marah, tidak puas dengan situasi lalu bersikap agressif negatif atau pasif negatif (hanya mengeluh).

Ini akan membuat kita semakin stress oleh situasi. Dalam jangka panjang tentu sikap kita ini akan membuat kita kehilangan moemem untuk lebih maju dan lebih bahagia apabila sikap ini selalu kita gunakan.

Tapi masalah-masalah di dunia kerja itu akan menjadi sumber kebahagiaan jika feedback-nya positif dan konstruktif. Misalnya kita tidak puas dengan gaji dan pendapatan lalu itu kita jadikan dorongan untuk meningkatkan skill, network, dan spiritualitas.

Jika didukung dengan program, tujuan, dan target yang jelas, pasti hasilnya akan sangat bagus. Kita yang semula merasakan aduuuuh, akan berubah menjadi ahaaaa.

Marilah kita jadikan pekerjaan sebagai sumber kehidupan (living) dan jangan menjadikannya sebagai sumber kematian dengan mengembangkan stress.

Selamat mempraktekkan.