Kapan Perlu Konsumsi Antibiotika?

b0bdeb8d76d2ab238ff8267fefa1403d8931ca21.jpeg

Sebagaimana umumnya obat, antibiotika juga membawa efek samping. Namun dalam keseharian begitu banyak orang yang membeli antibiotika layaknya kacang goreng. Padahal sekadar obat warung saja pun tidak boleh gampang-gampang kita konsumsi, apalagi antibiotika. Selain kerugian ekonomi, badan ikut memikul efek samping antibiotika yang sebetulnya tak perlu.

SEPERTI yang selama ini kita pahami, antibiotika kita butuhkan untuk membasmi mikro organisme atau bibit penyakit yang menghadang kita di mana-mana. Sebelum Alexander Flemming menemukan penicillin, antibiotika yang pertama kali ditemukan, di dunia banyak korban terinfeksi dan tak tertolong lalu meninggal.

Kini jenis antibiotika demikian melimpah jenis maupun genre-nya. Walau belum semua bibit penyakit, boleh dibilang kebanyakan infeksi sudah memiliki antibiotika penangkalnya. Termasuk untuk antivirus.

Rimba bibit penyakit

Manusia dihadang oleh beraneka ragam bibit penyakit, tak ubahnya satwa di rimba raya. Ada satwa kecil, ada pula yang luar biasa besarnya. Seperti itu pula dunia bibit penyakit. Yang paling kecil disebut virus, dan yang paling besar dikenal sebagai parasit, contohnya cacing.

Bibit penyakit pun kalau dihitung ada ribuan jenis kecil dan besar. Bahkan belakangan ditemukan jenis bibit penyakit baru, diduga akibat perubahan gen dari bibit penyakit lama. Selain dari itu, bibit penyakit lama juga berubah tabiat. Salah satunya akibat tidak tertib memakai antibiotika. Karena itu manusia sekarang menghadapi begitu beragam jenis bibit penyakit.

Segala jenis bibit penyakit itu beredar di udara, di air dan di alam bebas. Setiap saat di mana-mana tubuh dihadang bermacam ragam bibit penyakit, tanpa kita sadari. Karena hampir semua bibit penyakit tidak terlihat oleh mata telanjang.

Cara bibit penyakit memasuki tubuh bisa melalui beberapa pintu. Selain lewat mulut, hidung, atau selaput lendir bola mata, ada pula yang melalui selaput lendir kemaluan, serta menembus kulit. Namun tidak setiap orang yang sudah dimasuki bibit penyakit, tentu akan jatuh sakit. Yang tidak sampai jatuh sakit atau terinfeksi adalah mereka yang daya tahan tubuhnya kuat.

Hanya apabila tubuh sedang lemah atau kekebalannya sedang turun, bibit penyakit yang telanjur memasuki tubuh, menjadikan orang jatuh sakit. Jika pulang dari pasar, mal, stasiun, bandara, atau rumah sakit, langsung bersin-bersin, itu bisa jadi sudah dimasuki virus flu yang beredar di udara sekitar tempat-tempat umum.

Overutilisasi

Pemakaian antibiotika yang berlebihan dan bukan pada alamat yang tepat adalah kasus yang paling sering terjadi, padahal tidak semua infeksi dapat diatasi dengan antibiotika. Semua penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti flu, tak mempan dengan antibiotika. Hanya sebagian jenis virus ada antivirusnya. Apa artinya? Artinya untuk infeksi virus, antibiotika tidak diperlukan.

Ironisnya, kasus pasien flu yang disebabkan oleh virus dan diberikan antibiotika justru paling sering terjadi, baik oleh sejawat dokter maupun atas inisiatif pasien sendiri. Kasus demikian terbilang mubazir. Karena pertama, virus tak mati oleh antibiotika, dan kedua, orang menanggung biaya membeli antibiotika yang tidak diperlukannya.

Mengapa dokter memberi antibiotika pada pasien flu? Oleh karena kasus flu di Indonesia dianggap enteng. Selagi flu masih tetap masuk kerja, masuk sekolah, dan kegiatan keseharian lainnya. Padahal ketika sedang flu, tubuh memerlukan istirahat dan tidak beraktivitas.

Akibat selagi flu masih beraktivitas, kondisi badan melemah. Padahal ketika flu, daya tahan tubuh yang akan menumpas virus flunya. Sementara agar daya tahan tubuh optimal, tubuh perlu diistirahatkan dari semua aktivitas harian. Komplikasi flu terjadi lantaran tubuh diperlemah selama flu, lalu muncul infeksi tumpangan pada tenggorokan, kerongkongan, rongga hidung, sampai ke paru-paru.

Kalau ada dokter yang memberikan antibiotika kepada pasien flu, itu hanya untuk mengantisipasi kalau-kalau flunya terlanjur berkomplikasi. Karena bila pasien flu tidak dibekali antibiotika, lalu flunya berkomplikasi, ada dokter yang takut diragukan kapabilitasnya. Tidak demikian halnya bila pasien memiliki dokter keluarga.

Dokter keluarga selalu memberikan obat secara bertahap, dari obat yang ringan saja, hingga diberikan kemudian yang lebih kuat bila penyakitnya berkembang memburuk. Cara berobat begini hanya mungkin dilakukan kalau dokter memantau penyakit pasiennya setiap hari sebagaimana yang dilakukan dokter keluarga.

Sementara dokter pada umumnya menghadapi pasien yang rata-rata kutu loncat. Dokter belum tentu sudah mengenali pasiennya. Daripada meminta pasien flunya balik lagi kalau penyakitnya memburuk, untuk kepraktisan dokter langsung "menembak" pasien dengan memberikan langsung resep antibiotika, yang pada saat itu sebetulnya belum dibutuhkan pasien.

Saat tepat untuk antibiotika

Bagaimana tahunya kalau flu sudah berkomplikasi? Kita bisa melihatnya bila ingus yang semula bening encer lalu berubah menjadi kuning atau hijau. Itu tanda bahwa selain virus, tubuh sudah ditunggangi kuman akibat kondisi tubuh menurun, lalu terjadi superinfeksi (superbug). Pada saat ingus sudah berwarna itulah tepatnya antibiotika baru dikonsumsi.

Atau pada diare misalnya, hanya diare infeksi yang memerlukan antibiotika. Cirinya antara lain, tinjanya berbau busuk, ada demam, mulas, dan mungkin tinjanya bercampur lendir atau darah. Sedang diare karena gangguan fungsi pencernaan belaka, biasanya tidak seperti itu sifat tinja maupun keluhannya. Diare steril begini tidak memerlukan antibiotika, cukup hanya oralit.

Itu berarti kita sendiri sebagai pasien yang paling tahu kapan antibiotika baru mulai dikonsumsi supaya tidak mubazir. Karena prinsipnya kalau bisa tidak minum antibiotika, mengapa pilih mengkonsumsinya.

Risk-benefit

Pertimbangan pemakaian obat apa pun, termasuk antibiotika, selalu mengacu kepada perhitungan risk-benefit. Kalau manfaat pemakaian obat lebih besar dibanding risiko yang ditanggung akibat pemakaiannya, obat kita konsumsi. Demikian pula halnya dengan ketika mempertimbangkan pemakaian antibiotika.

Pertanyaan apakah tidak berbahaya kalau minum obat terus, sebetulnya bisa dijawab setelah memahami makna risk-benefit. Selama manfaat obat lebih besar daripada risiko, berapa lama pun obat dikonsumsi, sebaiknya kita tetap mengkonsumsinya. Sebaliknya satu kali pun obat tak perlu kita minum apabila penyakit berangsur pulih tanpa minum obat, atau tidak membuat kita menderita. Termasuk bila nyeri kepala, pusing, atau tidak enak badan. Karena risiko memikul efek samping minum obat sembarangan lebih besar dibanding manfaat obatnya, termasuk antibiotika.

Semua infeksi berat jelas membutuhkan antibiotika. Pilihan antibiotika yang mana, dokter yang menentukan, karena tidak semua infeksi sama jenis antibiotikanya. Tergantung jenis dan sifat bibit penyakitnya. Adakalanya bibit penyakit yang dulunya masih mempan dengan sejenis antibiotika, belakangan sudah kebal, maka dokter memilihkan antibiotika generasi yang lebih baru. Kasus kebal antibiotika semakin banyak lantaran masyarakat memakai sendiri antibiotika secara setengah jalan, atau menebus resep antibiotika separuh saja.

Kalau diperlukan harus mengkonsumsi antibiotika berbulan-bulan, seperti pada TBC, tentu tidak masalah demi pertimbangan manfaatnya untuk menyembuhkan infeksi agar bisa sampai tuntas, kendati efek sampingnya memang merugikan tubuh.

Batuk flu, batuk asthma dan batuk alergi, juga tidak memerlukan antibiotika. Cukup obat pereda batuk, sambil meniadakan pencetusnya. Antibiotika baru diperlukan pada kasus ini apabila sudah ditunggangi kuman (bakteri) atau terjadi superinfeksi.

Namun dengan tidak meminum antibiotika tentunya dibutuhkan upaya untuk menambah daya tahan tubuh karena kondisinya lebih rentan dibanding orang normal. Seperti pada orang yang sedang flu, pengidap asthma dan alergi. Caranya dengan hidup tertib. Teratur makan, menu bergizi, cukup jeda dan tidur, serta rutin bergerak badan. Tanpa upaya itu, tubuh cenderung melemah. Hanya bila tubuh melemah lah, bibit penyakit lebih mudah dan sering menyerang sehingga konsumsi antiobiotika jadi meningkat.***