4c6c10ede39e1ce1d637b1096c437718ea379dc1.jpeg

Hidangan kudapan manis untuk berbuka memang cepat mengembalikan energi seteah seharian berpuasa. Namun manisnya gula yang berlebihan dapat berdampak tidak baik untuk kesehatan tubuh. Kontrol asupan gula saat berbuka puasa agar Anda tetap sehat selama menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.

Kurang afdol rasanya jika berbuka puasa tanpa didahului dengan menyantap kudapan manis untuk berbuka. Kolak pisang, biji salak, bubur sumsum, es blewah, es sirup, dan setup kolang-kaling adalah sederet nama hidangan yang biasanya tersaji sebagai tajil berbuka pasa. Sudah menjadi tradisi dan rasanya susah untuk mengurangi apalagi menghilangkan. Di sisi lain, hidangan ini mengandung banyak gula yang jika dikonsumsi melebihi ambang batas dapat menggangu kesehatan. Jangan berkecil hati, karena banyak kiat agar Anda tetap menikmati manisnya kudapan berbuka tanpa harus kelebihan asupan gula.

Mengenal Gula Lebih Dekat

Banyak salah kaprah dari kita yang mengartikan gula sebagai gula pasir, padahal sebenarnya pengertian gula adalah semua jenis pemanis yang mengandung kalori. Seperti gula merah, sirup maple, gula batu, gula semut atau gula bit. Gula pasir yang paling populer merupakan sukrosa yang termasuk dalam kategori jenis gula disakarida. Secara kimiawi, gula disakarida ini tersusun atas glukosa dan fruktosa.

Di pasaran banyak sekali dijual beragam jenis gula. Gula pasir yang terbuat dari tetes tebu, gula merah (gula jawa) dari sadapan air nira kelapa, gula aren dari nira pohon aren, gula batu, gula bit dari umbi bit dan sirup maple yang terbuat dari getah pohon maple. Gula-gula ini memiliki bentuk dan warna yang berbeda-beda, seperti gula pasir berupa butiran kristal utih dan gula dan gula merah bentuknya balokan dengan warna kecokelatan. Meskipun berbeda sumber, semua memiliki kesamaan yaitu memberikan rasa manis pada makanan atau minuman.

Ambang Batas Konsumsi Gula

Saat berbuka puasa, tubuh kita akan merasa cepat menjadi bugar setelah mengonsumsi hidangan manis. Hal ini disebabkan karena gula merupakan sumber energi yang mudah dicerna dan diserap oleh tubuh sehingga badanpun akan cepat bugar kembali setelah menyantap hidangan manis. Gula juga sumber gizi esensial untuk kerja otak dan organ vital lain seperti ginjal dan sel darah merah. Meskipun sumber energi esensial, bukan berarti kita boleh dengan bebas mengonsumsi gula. Berdasarkan angka kecukupan gizi yang dianjurkan, kebutuhan energi orang dewasa diperlukan sekitar 2300 kalori per hari. Dari jumlah 2300 kalori ini para ahli gizi menyarankan sekitar 60 persennya berasal dari karbohidrat yang salah satu sumbernya adalah gula.

Dalam ambang batas yang wajar, konsumsi gula tidak membahayakan bagi tubuh. Bahkan gula disinyalir memberi dampak menenangkan jiwa dan merangsang rasa kantuk. Hal ini disebabkan karena gula dapat meningkatkan zat penenang dalam otak yang disebut dengan serotonin.

Namun perlu diingat, bahwa gula terkait dengan konsumsi energi. Jika tidak digunakan untuk beraktifitas, konsumsi energi yang berlebihan akan disimpan dalam bentuk lemak oleh tubuh. Jangka panjangnya tubuh akan mengalami obesitas yang merupakan awal timbulnya beragam penyakit. Asupan gula yang tinggi akan meningkatkan asupan energi, kondisi ini dapat mepengaruhi keadaan kesehatan bagi orang yang menderita penyakit tertentu, seperti diabetes mellitus atau glucose intolerance.

Kudapan Manis Rendah Gula

Setelah mengetahui kekurangan dan kelebihan gula, kita harus cermat di dalam mengonsumsi gula. Terutama saat bulan Ramadhan, karena pada bulan puasa, konsumsi gula justru meningkat karena tradisi mengonsumsi makanan manis saat berbuka. Berikut kiat sehat mengurangi asupan gula tanpa harus mengurangi kenikmatan rasa dari kudapan berbuka.

  • Pilih Bahan yang Memiliki Rasa Manis Alami. Karena kandungan gula buah (fruktosa) lebih sehat dibandingkan gula pasir. Seperti saat menyiapkan kolak, ganti manisnya gula dengan menggunakan bahan yang memiliki rasa manis alami, seperti labu kuning, ubi jalar, atau pisang sebagai bahan isi. Rasa manis alami dari bahan ini dapat mengurangi jumlah gula dalam kuah kolak.
  • Biasakan Mengonsumsi Kudapan Berbahan Buah. Kudapan manis untuk berbuka tidak selalu harus menambahkan gula. Jus mangga, jus semangka, smoothie melon, atau smoothie kurma tetap segar dan manis meskipun Anda tidak menambahkan gula.
  • Puding Sehat Kaya Serat. Puding dingin dengan rasa manis asli dari buah-buahan akan membuat Anda sehat karena selain segar dan nikmat, kudapan ini juga kaya serat yang akan menjaga saluran pencernaan. Cobalah membuat puding dengan cairan dari perasan jeruk manis, jus sari wortel atau air kelapa. Dijamin, puding Anda tetap manis dan segar tanpa harus menambahkan gula pasir.
  • Ganti dengan Pemanis Buatan. Bagi Anda yang menderita penyakit tertentu, seperti diabetes, penggunaan pemanis dapat menggantikan gula pasir sebagai campuran bahan tajil berbuka. Penambahan sedikit pemanis buatan pada minuman, kolak atau kuah biji salak dapat mengurangi penggunaan jumlah gula pasir sehingga Anda tetap menikmati kudapan manis saat berbuka.
  • Manisnya Madu Lebih Sehat. Meskipun manis, madu memiliki beragam manfaat dan lebih sehat dibanding dengan gula. Anda bisa mengganti penggunaan gula pasir dengan madu di saat Anda membuat es teh, teh hangat atau jus buah untuk berbuka puasa.
  • Kurangi Porsi. Ingat kudapan manis saat berbuka adalah hidangan tajil atau kudapan kecil pembuka. Anda masih memerlukan nutrisi lain yang diperoleh dari hidangan utama. Jadi, jangan berlebihan mengonsumsi kudapan manis saat berbuka karena gula bersifat mengenyangkan dan mengurangi napsu makan.


  •  

Daftarkan email Anda untuk informasi terkini