Grand Duck King

6f82ec198067c5d04538a6b5bc46625047f75a4a.jpeg

Adalah satu hal yang menyenangkan ketika semua selera hidangan dapat berkumpul dalam satu lokasi dan memenuhi harapan tiap tamu yang datang ke sebuah resto. Sepertinya agak sulit dan yang selalu terbayang adalah sebuah food courtatau pusat jajan serba ada (pujasera) dalam satu mall. Tapi inilah pengalaman yang mungkin bisa kita peroleh dari sebuah restoran oriental bernama Grand Duck King. Dari namanya sudah jelas jika resto ini memiliki menu hidangan bebek peking yang sudah sangat dikenal seluruh penduduk di muka bumi.

Harapan saya ketika memilih resto Duck King tidak melulu bersandar pada menu andalan yaitu bebek panggang, tapi lebih kepada jenis hidangan yang sangat variatif sampai kepada pencuci mulut. Dan, karena masakan Indonesia sendiri juga memilki pengaruh hidangan atau rasa a la Cina, sayapun segera melangkah masuk. Rupanya karena akhir minggu yang berbarengan dengan akhir bulan ditambah masa liburan sekolah yang sudah dimulai, resto tampak sesak. Sehingga kapasitas lebih dari 200 tempat duduk terlalu padat untuk menerima kami tepat di jam makan siang. Sayapun memutuskan untuk mengubah strategiókembali di siang hari menjelang sore untuk dapat memilih meja favorit. Benar juga, setelah berjalan hampir 2 jam lebih di dalam mall, sesampai di depan resto, suasana sudah berubah dan segera tersedia meja kosong di dekat railing mall Kelapa Gading, Jakarta.

Menyantap makan siang di atas jam 2 bukanlah hal gampang. Menu berbentuk buku dengan berjenis-jenis bahan hidangan membuat pilihan makin sulit. Hal ini bisa dikategorikan sebagai happy problem, masalah yang menyenangkan. Sayapun memutuskan untuk memesan masakan dari jenis bahan yang berbeda, yaitu sayuran, sapi, ayam dan seafood. Dua jenis sayuran adalah tumis brokoli bawang putih dan buncis goreng cabe garam. Masih ada ayam panggang madu atau cha siew, juga iga sapi panggang a la szechuan. Dan satu lagi untuk mengiring menu-menu ini, saya memesan nasi goreng udang dan scallop (remis). Lumayan banyak bukan? Tapi untuk tetap fokus mencicip banyak hidangan, es teh tawar sepertinya akan jadi pelega tenggorokan juga penetral rasa dalam rongga mulut.

Seperti kebiasaan, hidangan resto Cina disajikan tanpa urutan dan hampir semua keluar berbarengan khususnya untuk menu a la carte yang biasa kita sebut makan (di) tengah. Kecuali kita bersantap dengan set menu, nasi atau mie akan muncul sebagai penutup. Ini sangat menolong saya yang sudah bertambah lapar. Tanpa tunggu lama, sayuran brokoli tersaji. Ditaburi dengan bawang putih goreng, rasa sayuran segar tanpa banyak bumbu tambahan sangat lezat. Hanya karena masih ingin mencicip hidangan lain, saya makan perlahan dan benar-benar menikmati tiap gigitan di dalam mulut. Aroma bawang putih tidak terlalu dominan dalam potongan kecil terasa pas.

Masih berlanjut pada urutan acak dari hidangan yang datang, kali ini saya mencoba rasa iga sapi panggang yang seharusnya pedas karena dimasak a la szechuan. Irisan iga tipis sedikit mengecoh karena masih menyisakan sedikit bagian tulang sapi. Tapi dengan bantuan garpu dan pisau, daging terasa lembut dengan bumbu pedas yang pas. Beruntung tidak lama kemudian nasi goreng tersaji. Bagi saya rasa gurih lumayan kuat jadi agak berlebihan jika dipadu dengan iga. Wah, seharusnya saya memilih nasi putih saja yaÖ Tapi keduanya tetap dapat dinikmati jika disendok sedikit demi sedikit. Yang membantu adalah sayuran pada nasi goreng berupa irisan selada yang berfungsi untuk menetralisir rasa gurih dari udang juga scallop. Makin terbukti jika hidangan Cina memang mudah diterima dan jadi favorit banyak orang segala umur.

Dua hidangan lain yang sempat saya nikmati adalah ayam panggang madu dan buncis goreng cabe garam. Ayam memberi rasa manis sedang buncis dengan rasa gurih yang diperolah dari bubuk garam berfungsi sebagai topping hidangan. Buncis, sayuran yang kita kenal biasa digunakan dalam sop atau ditumis, kali ini dibungkus dengan tepung dan digoreng garing satu persatu. Sepertinya bagi mereka yang tidak menyukai sayur, menu ini mungkin akan mengubah pendapat karena sayur disajikan benar-benar berbeda dan lezat. Untuk ayam panggang, rasa manis dan bumbu lain benar-benar meresap sampai kebagian dalam daging.

Setelah semua dinikmati, ternyata waktu dua jam terlewati tanpa terasa. Sepertinya makan masakan Cina memang idealnya disantap santai dengan tidak terburu-buru, sehingga tiap rasa dapat diapresiasi baik. Hal lain yang juga perlu diingat, sebaiknya memesan menu a la carte jika Anda datang berempat atau lebih. Pilih hidangan berdasarkan jenis bahan makanan sebanyak 3-5 jenis. Perhitungan saya, satu porsi ëlaukí dapat memenuhi kebutuhan 3-4 orang, sehingga tiap orang punya kesempatan menikmati semua secara bersama dibanding menu individual.

Sekarang waktunya untuk menutup sesi santap menjelang sore. Ragam pencuci mulut Cina cukup banyak dan disajikan hangat juga dingin. Kali ini saya sesuaikan dengan cuaca di luar yang terik. Dua pilihan dari buku menu adalah puding mangga buah campur dan lemon sereh yang tersaji dingin. Rasa manis mangga segar yang tidak terlalu asam, diberi saus susu kental yang beroma vanili ternyata memang pilihan yang baik. Selain itu masih ada potongan buah stroberi dan melon yang memberi tambahan nilai sebagai hidangan pencuci mulut yang lengkap. Sedang lemon sereh adalah jelly beraroma sereh lemon yang diberi topping buah potongan seperti, mangga, stoberi, jeruk bali, selasih dan anggur. Jelly yang kenyal sangat mudah disendok dan dengan tambahan begitu banyak pilihan dari buah segar akhirnya jadi sebuah penutup yang ringan dan menyenangkan. Terbukti, walau sudah bersantap beberapa jenis hidangan sebelumnya, kedua pencuci mulut masih dapat diterima perut. Akhirnya sayapun meninggalkan resto dan melangkah dengan puas dan senang. Satu pengalaman yang baik dari resto Grand Duck King.

Restaurant remarks:
Food/makanan : 4/5
Value/harga makanan : 4/5
Ambience/suasana : 3/5
Service/layanan : 3/5