Berhenti Makan sebelum Kenyang, Mengapa?

97c6270624352e56706c097e594e8c0b062351fe.jpeg

Makan itu bukan untuk menjadi kenyang, melainkan memenuhi seluruh kebutuhan tubuh. Kalau makan sekadar menjadi kenyang, dua kerugian yang bisa timbul. Badan menjadi gemuk, dan belum tentu tubuh terpenuhi seluruh zat gizinya. Menjadi gemuk sendiri sudah menjadi wabah dunia, ketakutan yang sebetulnya tidak harus terjadi, antara lain kalau mau mengendalikan makan. Salah satunya berhenti makan sebelum kenyang.

SECARA alami tubuh kita memiliki mekanisme dalam hal makan. Yang mengatur agar asupan makan selalu dalam keadaan seimbang, tombolnya ada di otak. Rasa lapar dan rasa kenyang menjadi kendali alami tubuh agar kita tidak makan berlebihan, tidak pula sampai kekurangan. Kedua rasa itu harus kita sikapi sebagai suara yang disampaikan oleh tubuh kita.

Kalau ingin tubuh senantiasa dalam kondisi seimbang, kita patut mendengarkan apa yang tubuh katakan. Dalam hal makan, kita perlu mendengarkan rasa lapar, selain rasa kenyang juga.

Bahwa tubuh akan merasa lapar apabila kadar gula dalam darah sudah menurun. Sinyal itu dikirimkan ke otak, dan rasa lapar di otak pun menyala. Kita terdorong mencari makan agar gula dalam darah meningkat kembali. Dan tubuh menjadi terganggu kalau kita tidak memenuhi permintaan tubuh itu.

Setelah tubuh yang sedang merasa lapar itu diberi asupan makan, gula darah akan meningkat yang akan memberi sinyal berbeda kepada otak sehingga rasa kenyang muncul. Mengabaikan rasa kenyang berarti membiarkan tubuh kelebihan asupan makan yang tidak diperlukannya. Porsi lebih ini yang berangsur-angsur menambah tubuh berubah jadi tambun.

 

Melatih mendengarkan suara tubuh

Sebagaimana halnya dengan rasa kantuk yang harus didengar dan dikabulkan membawa tubuh untuk tidur, rasa kenyang juga perlu ditaati. Tidak ada kendali yang sebijak rasa kenyang untuk membuat tubuh kita dalam kondisi senantiasa seimbang, dan menjadi tercapai berat badan yang idealnya.

Hanya apabila kita menaati suara tubuh menyampaikan rasa kenyang, kita bisa mencapai berat badan yang terjaga ideal. Dengan cara apa pun kita menghitung berat badan, tidak pernah terjadi kelebihan berat badan apabila kita sudah berhenti makan sebelum kenyang.  Melewati ambang kenyang berarti kita sudah melampaui kecukupan makan (Baca: kalori).

Pola dan sikap kita terhadap makanan perlu dibentuk sejak kecil. Keliru kalau ibu masih berpandangan bahwa anak yang sehat itu harus montok. Justru anak yang tidak gemuk, namun tidak pula kurus itulah anak yang berkategori sehat.

 

Kalkulator kalori

Kebutuhan kalori tubuh kita ditentukan oleh umur, jenis dan bobot aktivitas harian, selain jenis kelamin. Rata-rata pekerja kantor membutuhkan sekitar 2.000 kalori (Kkal). Dan itu dipenuhi oleh total kalori yang diperoleh dari makan tiga kali ditambah camilan.

Orang menjadi kelebihan berat badan apabila kalori yang masuk selalu lebih besar dibanding kalori yang terpakai untuk beraktivitas untuk waktu lama. Maka berat badan menjadi parameter untuk melihat apakah yang dimakan dengan yang dipakai masih seimbang.

Kalau berat badan sudah berlebihan, tinggal mau pilih cara yang mana? Atau asupan makannya dikurangi dan aktivitas fisiknya tetap, kalau bukan asupan tetap, namun aktkvitas fisiknya ditambah sampai titik berat badan idealnya tercapai.

Dalam soal asupan makanan, kita juga perlu menghitung kalori yang masuk dengan mengenal bobot kalori masing-masing jenis makanan yang kita konsumsi. Sepotong kiju bobot kalorinya kira-kira setara dengan 3 butir ubi jalar. Rasa kenyangnya bisa saja tidak sama sehabis makan keju dibandingkan dengan makan ubi jalar. Massa makanan (bulk) yang mengisi lambung ikut membantu menimbulkan rasa kenyang. Maka jenis makanan yang massanya besar namun bobot kalorinya rendah seperti ubi, membantu menurunkan berat badan. Menjadi lekas kenyang oleh makanan yang kalorinya rendah.

Menghitung kalori yang masuk juga perlu memahami bobot kalori jenis karbo apakah itu nasi, ubi, jagung, sagu, atau roti, setiap Gram berisi 4 Kkal. Sedang jenis makanan berlemak berisi 9 Kkal setiap Gramnya. Perlu dua kali porsi karbo untuk mendapatkan kalori yang sama dari seporsi makanan berlemak. Menu berlemak lebih cepat membuat kita kenyang.

Kenyang dari  teh manis berbeda akibatnya dengan kenyang sehabis mengonsumsi ubi rebus. Sehabis minum teh manis kenyangnya hanya sebentar, karena gulanya langsung diserap darah tanpa diolah, lalu karena gula terpakai, lalu rasa laparnya lekas muncul kembali. Sedang bila mengonsumsi ubi, perlu waktu berlangsung proses metabolisme untuk mengubah zat pati menjadi gula. Rasa kenyang oleh massa ubi di lambung, dan lambatnya pati menjadi gula, sehingga rasa laparnya baru muncul kemudian.

Kenyang yang menyehatkan itu kenyang sehabis mengonsumsi seluruh kebutuhan zat gizi tubuh. Makan tak cukup hanya nasi dengan lauk saja. Menu sekurang-kurangnya perlu 4 sampai 5 macam agar kecukupan seluruh 45 jenis zat gizi (nutrient) terpenuhi. Makan nasi dengan sambal saja pun sama-sama bisa menjadikan kita merasa kenyang, namun itu bukan kenyang yang menyehatkan.

Rasa kenyang juga harus hadir dari kepenuhan lambung oleh serat berasal dari aneka sayur-mayur serta berbuahan, dan sesedikit mungkin berasal dari yang serba manis. Singkong rebus, aneka lalapan, nenas, jambu biji, dan sejenisnya setelah menu beraneka ragam setiap harinya terhidang, yang akan menghasilkan rasa kenyang ideal bila itu hadir di semua meja makan rumah kita.***