Berdiet Jangan Lebay!

4ddda6f1ab0d60d48ae75428b4ec37da1cd9243d.jpeg

IBU Mimi contoh salahnya. Suatu pagi ia masuk rumah sakit karena pingsan. Padahal selama ini gaya hidupnya dijaga betul. Ia tidak gemuk, selalu rutin berolahraga, dan patuh pada nasihat dokter, betul-betul ia sosok yang patut diteladani. Lalu kenapa sampai pingsan?

Setelah diperiksa, dan dilakukan pelacakan medis seperlunya, kedapatan kalau Bu Mimi kekurangan gizi. Artinya semua zat penting di dalam darahnya serba rendah. Gula, lemak, protein, beberapa mineral vital, semuanya rendah. Itu yang bikin dia drop. Tensi darahnya juga ikut rendah.

Lebay dalam berdiet

Betul. Ibu Mimi mengaku selama bertahun-tahun ia tak berani, bukan tidak mau, mengonsumsi telur. Ia juga takut makan soto, sehingga yang dikonsumsi serba rebusan. Menghindar dari seafood, bahkan sama sekali tidak makan daging lagi. Masakan di rumah hambar, karena nyaris tanpa menambahkan garam dapur. Tidak makan yang manis-manis, apalagi gula pasir.

Yang bersikap seperti Bu Mimi bukan dia seorang. Saya pribadi menemukan pasien yang keliru memilih berdiet seperti itu. Serba takut dan menghindar dari segala jenis menu yang ditabukan orang sebagai sumber penyakit. Tidak lagi minum teh manis, menjauh dari soto, gulai, apalagi sate kambing, dan durian.

Karena semua orang bilang jangan makan cumi dan kepiting yang berkolesterol, sampai-sampai Bu Mimi mimpinya yang berulangkali temanya ihwal lezatnya menyantap seafood. Doyan seafood tapi takut menyantapnya. Susah nian hidup ini jadinya.

Kebanyakan orang keliru memilih cara berdiet lebih gara-gara apa yang didengar dan dibacanya datang dari sumber yang tidak bertanggung jawab. Sumber informasi dari pihak yang tidak berkompetensi untuk itu. Informasi multimedia yang berkeliaran di mana-mana tidak disaring apakah sahih untuk diterima sebagai sebuah kebenaran ilmiah. Benarkah kencing manis lantaran kebanyakan mengonsumsi gula? Bahwa kacang-kacangan itu kaya akan kolesterol. Takut makan sate kambing nanti kena stroke. Mitos begini yang sama-sama ikut menyesatkan selain bermunculannya informasi kesehatan dan medik yang hoax.

Pemakan segala yang tahu diri

Sejatinya tubuh kita membutuhkan 45 jenis zat gizi setiap hari. Separo dari jumlah zat gizi itu bersifat esensial, atau tidak boleh tidak ada dalam menu harian. Sekurangnya perlu 4 sampai 5 macam menu di meja makan agar kebutuhan zatgizi itu terpenuhi seluruhnya.

Gaya makan rara-rata kita yang hanya satu macam menu saja, seperti nasi dengan soto, atau nasi dengan gado-gado, sangat tidak mungkin bisa mencukupi semua kebutuhan zat gizi tubuh. Kekurangan satu saja zat gizi sudah bikin “mesin tubuh” kita pincang berputarnya. Artinya tubuh tidak tampil optimal performanya.

Kalau zat gizi esensial yang kurang pasokannya akibat menu harian kita hanya satu macam atau disebut monodiet, maka bukan saja kinerja tubuh kurang optimal, mungkin muncul penyakit baru bernama kekurangan gizi orang modern. Kulit jadi kering, lekas letih, lesu, dan lemah. Kita lupa, sebanyak lebih 20 jenis mineral dibutuhkan tubuh untuk melumasi mesin tubuh, termasuk untuk kerja semua organ tubuh.

Melihat kenyataan itulah mestinya sikap kita terhadap makanan, harus menjadi orang yang bertabiat pemakan segala, alias omnifora. Apa saja suka. Dan sejatinya bumi kita ini sudah menyediakan semua kebutuhan tubuh, mulai dari tumbuhan, hewan, serta ternak yang bijaknya, kita nikmati semuanya tanpa kecuali. Alam sudah menyediakan semuanya, kita tinggal memetiknya.

Yang lezat jangan lebay

Kodrat makanan itu, semakin lezat semakin tidak menyehatkan bila dikonsumsi berlebihan. Kue donat, daging bergajih, dan penganan serba manis itu tergolong lezat dibanding ubi rebus, tempe-tahu, atau gula merah, atau beras tumbuk. Tapi ubi rebus dan beras merah atau gula merah jauh lebih menyehatkan ketimbang donat dan teman-temannya itu. Dan itu cobaan buat orang modern.

Maka lidah kita harus menjadi “polisi” yang mengendalikan kapan kita harus berhenti makan ketika yang kita kecap terasa lezat.

Namun bukan lantaran golongan makanan berlemak bergula dan serba asin itu tidak menyehatkan, maka sama sekali kita tidak mengonsumsinya. Tubuh tetap membutuhkan lemak, gula, dan protein hewani dari daging dan telur juga. Namun porsinya secukupnya dan tidak berlebihan.

Kesalahan yang acap terjadi, makin lezat suatu makanan, makin berlebihan dikonsumsi. Menu bistik, sebetulnya tidak bersesuaian dengan kodrat tubuh kita. Porsi protein hewaninya melebihi porsi karbohidrat sebagaimana diminta tubuh yang diperoleh dari sepiring nasi dan sepotong ikan, daging, tempe dan tahu. Sesekali mengonsumsi bistik tidak salah, seperti halnya sesekali memilih soto berlemak, atau telur karena tubuh juga membutuhkan lemak, protein hewani, selain gula juga.

Ambil contoh, sebutir telur mengandung sekitat 275 mg kolesterol. Tubuh seharinya membutuhkan 500 mg kolesterol. Kolesterol juga diproduksi oleh hati. Asupan sebutir telur tidak harus meningkatkan kolesterol dalam darah, kecuali ada bakat turunan kolesterol tinggi.

Bahwa tubuh membutuhkan lemak dari minyak goreng dan gajih dalam daging untuk pembakaran. Hanya asalkan porsi lemak sekitar 15 persen dari total asupan kalori, memang dibutuhkan. Namun karena lemak dalam gorengan dan soto itu lezat, kita cenderung kelebihan porsi menyantapnya. Itu yang menjadi tidak menyehatkan. Yang sama ketika menyantap es krim, dan cake.

Selama asupan lemak dan protein dan gula secukupnya dan tidak berlebihan,itu yang diminta tubuh yang kemudian terjaga kesehatannya. Sebaliknya tubuh menjadi lemah bila tidak semua asupan makanan komplet kandungan zat gizinya, termasuk menu harian tanpa lemak tanpa gula tanpa garam dapur sebagaimana yang dialami Ibu Mimi di atas.

Sejak kecil lidah anak sudah harus diciptakan untuk menyukai segala jenis menu harian, demi terpenuhi seluruh zat gizi yang tubuh butuhkan. Hanya bila tubuh menerima kecukupan zat gizi, akan menjadi sesehat-sehatnya tubuh. Tak cukup hanya punya berat badan yang ideal semata, karena berat badan ideal baru mencerminkan kecukupan porsi makan, namun belum tentu apa seluruh zat gizi yang dibutuhkan tubuh sudah terpenuhi juga. Cukup porsinya, berkualitas kelengkapan kandungan zat gizinya, itu yang seharusnya.

Cinta yang lebay mungkin ada perlunya, tapi tidak demikian bila berdiet juga lebay. Percayalah. Salam sehat. ***

Daftarkan email Anda untuk informasi terkini