Appetizer dan Dessert; Apakah Perlu?

6892141df17091568adebef70a37644afe81ee9f.jpeg

Entah pengaruh budaya atau kebiasaan keluarga, beberapa di antara kita suka saat makan lengkap dengan hidangan pembuka (appetizer) dan hidangan penutup (dessert). Tapi apakah memang tubuh kita membutuhkannya?

Melihat dari kebutuhan nutrisi, latar belakang budaya juga selera individu atas hidangan, keputusan untuk membuka sampai menutup lengkap satu sesi bersantap adalah pilihan atau opsional. Lalu, jika ingin menggali lebih dalam atas alasan atau kebiasaan dari bersantap multi hidangan; mari kita mulai dari hidangan asal benua Eropa.

Kita harus akui pengaruh hidangan Eropa khususnya asal Perancis sudah menyebar keseluruh dunia, termasuk tatacara atau kebiasaan. Dalam jenis hidangan Perancis klasik, tradisi bersantap memiliki 5 sampai 7 jenis makanan; bahkan lebih, yang akan disajikan dalam satu sesi. Bagi mereka, bersantap adalah satu perayaan; mirip sebuah pesta. Untuk itu, dilakukanlah penyajian secara bertahap seakan menggarisbawahi keistimewaan acara yang hendak dijaga agar terus meriah. Maka, bersantap selama dua jam lebih juga diiringi minuman seperti anggur dan sejenisnya, selain  tampilan hidangan yang istimewa; adalah keharusan.

Sepertinya kita akan membayangkan jika selesai bersantap, perut akan sangat kenyang. Kenyataannya, jenis tiap hidangan memiliki porsi yang sudah diperhitungkan baik besar, banyaknya dan tentu saja nutrisi yang ada. Semua hidangan dipersiapkan dengan seksama, direncanakan dengan matang untuk menghadirkan kombinasi citarasa dan tampilan bertujuan menghadirkan pengalaman bersantap yang terbaik. Tentu saja ini tidak terbatas pada hidangan asal Eropa, semua hidangan memiliki satu alasan pasti ketika disajikan (selain memenuhi kebutuhan rutin dan menjaga kesehatan). Lalu, bagaimana jika hidangan Asia atau Indonesia?

Hidangan Asia, disajikan berbarengan atau sekaligus. Semua menu dari berbagai jenis disajikan mulai dari sup, lauk berbagai bahan, nasi, sayuran, sambal sampai bermacam krupuk, juga saus dan tambahan lain; semua ada berbarengan di meja. Kitapun tinggal mencicip mana yang cocok sesuai selera tanpa harus mengikuti urutan baku. Mengenai porsi atau banyaknya, semua bergantung pada ukuran piring dan perut kita, tentunya.

Sedang untuk hidangan penutup yang memiliki rasa manis, ini adalah menu yang dapat berdiri sendiri dan dihidangkan kapan diperlukan tanpa perlu dimasukan dalam urutan terakhir ketika bersantap. Mungkin dikarenakan faktor ukuran atau jenis bahan yang digunakan. Contoh mudah adalah berbagai jenis kolak, es campur juga jajanan pasar. Jika diposisikan sebagai hidangan penutup malah akan ‘menutup total’ selera dan perut dalam jangka waktu lumayan lama karena rasa manis yang sangat mengenyangkan.

Lalu jika kita melihat dari sisi kesehatan dan kebutuhan tubuh, tentu saja semua menjadi berbeda. Kenyataannya tubuh kita hanya mengambil kebaikan nutrisi sesuai kebutuhan tiap individu, tanpa harus melihat urutan atau jenis menu yang disantap.  Sepertinya, bersantap dengan multi hidangan cenderung lebih kepada memuaskan kebutuhan psikis yaitu penglihatan sampai kepuasaan citarasa dibanding jasmani; lebih kepada alasan kebiasaan, tepatnya gaya hidup. Bayangkan, jika tiap kali harus bersantap, tradisi ini harus selalu diikuti. Berapa banyak waktu yang harus dibutuhkan untuk menyiapkan sampai menyantapnya. Ah, tentunya sekarang timbul pertanyaan, perlu atau tidak juga baik atau buruk kah?

Tiap individu memiliki selera dan preferensi berbeda, bebas menentukan sampai melakukannya sesuai norma yang berlaku dimana ia berada.

Jika memilih untuk memasukan tatacara membuka dan menutup hidangan a la Eropa ataupun menyantapnya sekaligus, semua sama baik dan benarnya. Pilihan ada ditangan Anda, semua dengan pertimbangan cermat melihat penjelasan sebelumnya diartikel ini dan yang paling penting adalah: selalu bersyukurlah akan hidangan yang disantap tanpa perlu menunggu waktu khusus atau dalam perayaan. Kitapun akan merasakan hasil pilihan ini karena tiap hidangan akan memberi kebaikan positif bagi kesehatan dan tubuh kita.