Amatilah Sikap Tubuh Anda Di Kantor

53d0924cba50d3e7bf7c85a433a8f5940d8f9ba8.jpeg

Pengertian sikap tubuh agak berbeda dengan istilah sikap (attitude) yang sering dikaitkan dengan cara pandang, mentalitas, atau pendirian hidup.

Sikap tubuh lebih terkait dengan bagaimana Anda  mengatur posisi tubuh, misalnya bagaimana duduk, berdiri, berjalan, menyambut orang, menghadap atasan, menghadapi bawahan, dan seterusnya dan seterusnya.

Sikap tubuh lebih punya pengertian sebagai hal-hal tentang diri kita yang tampak dari luar atau yang bisa dilihat orang secara kasat mata.

Pertanyaannya, kenapa mesti perlu kita amati? Disadari atau tidak, seringkali sikap tubuh kita terkait dengan suasana hati kita. Suasana hati ini sangat sering terkait juga dengan energi yang kita keluarkan.

Hubungan antara suasana hati dan sikap tubuh itu terkadang bisa sebab-akibat atau bisa juga sebaliknya.

Orang yang hatinya sedang galau, misalnya, bisa jadi akan memilih cara duduk atau cara berbicara yang mewakili suasana hatinya, katakanlah agak loyo atau menguap

Atau bisa juga terjadi hal yang sebaliknya. Misalnya, orang yang mengambil cara duduk tertentu, misalnya sigap terhadap tugas, akan mempengaruhi suasana hatinya yang juga sigap.

Bahkan sering terjadi bahwa sikap tubuh kita mempengaruhi sikap, pandangan, dan suasana hati  orang lain terhadap kita.

Coba kita menanyakan sesuatu ke orang tapi dengan sikap tubuh yang sepertinya menunjukkan kurang butuh atau tidak serius, misalnya sambil berjalan atau kurang menghadapkan muka. Apa kira-kira responnya?

Mungkin kita dianggap sombong, kurang sopan, tidak serius ingin menanyakan sesuatu, atau membikin orang itu jengkel.

Nah, mengingat sikap tubuh itu bisa mempengaruhi suasana hati kita dan orang lain, bahkan bisa mempengaruhi respon lingkungan, maka tentunya perlu kita amati jangan sampai kita menampilkan sikap tubuh yang punya efek negatif.

Hal lain yang juga penting kita lakukan adalah mengamati sikap tubuh yang ditampilkan orang lain dan mengamati reaksi lingkungan. Amati juga penampilannya, caranya, atau gayanya.

Tentu tujuannya bukan untuk melihat kejelekannya, tetapi untuk bisa belajar darinya. Semua orang lain itu adalah guru selama kita mau belajar.

Dari sini kemudian kita mengambil yang bagus dan membuang yang tidak bagus. Inilah yang disebut social learning, changing ouselves after seeing others, melakukan perubahan setelah melihat orang.

Tentu, yang harus selalu kita upayakan adalah mengarahkan energi pikiran agar mengingat hal-hal positif yang bisa memotivasi, memberi harapan, dan mendorong tindakan.

Energi positif akan pasti punya dukungan yang lebih kuat terhadap prestasi. Bahwa terkadang kita galau, loyo atau yang semisalnya memang itu manusiawi, tetapi tidak boleh terlalu lama.

Semoga bermanfaat.